Pakar Pendidikan mengkhawatirkan munculnya klaster baru pada warkop Pitulikur di Surabaya yang menyediakan fasilitias WiFi dan es teh gratis kepada para siswa yang kesulitan dalam melaksanakan pembelajaran jarak jauh atau daring.
- Nidya Putri
- Jumat, 24 Juli 2020 - 15:11 WIB
WowKeren - Sebuah warung kopi (warkop) di Surabaya mendadak viral lantaran menyediakan fasilitas WiFi gratis untuk pelajar yang membutuhkan. Selain memberikan fasilitas WiFi gratis, warkop Pitulikur yang berlokasi di Jalan Bagong Tambangan, Surabaya, itu juga memberikan bonus es teh bagi para pelajar.
Melihat kondisi ini, Pakar Pendidikan Isa Ansori menyadari jika pembelajaran daring tentunya dilengkapi jaringan internet, terlebih tidak gratis. Sedangkan keterbatasan ekonomi, para pelajar memilih memanfaatkan internet gratis yang disediakan.
"Namun persoalannya, di warkop itu anak-anak tidak selalu bergaul dengan anak-anak lain. Sebab, ada orang dewasa dan tidak selalu belajar," ujar Isa, Jumat (24/7). "Anak-anak yang biasa tidak merokok mungkin bisa jadi merokok. Sehingga itu yang terjadi ongkos sosialnya lebih mahal dibandingkan ongkos pemulihan COVID-19-nya."
Meski begitu, Isa juga mengapresiasi warkop yang memfasilitasi internet gratis bagi pelajar. Namun, ia tetap mengkhawatirkan penerapan protokol kesehatan.
Pasalnya, saat ini di Surabaya masih menjadi zona merah COVID-19. "Bahkan, Pemerintah Kota Surabaya juga berupaya untuk memberikan jaringan di balai RW," paparnya.
"Saya kira niat bagus, supaya proses belajar bisa berlangsung," lanjutnya. "Tapi persoalnya apakah di warung kopi atau balai RW protokol kesehatan bisa dijalankan? Selain itu siapa yang ngawasi?"
Menurutnya, akan lebih bagus jik aktivitas belajar dilakukan di lingkungan sekolah. Sebab, akan ada pengawasan dari guru dan penerapan protokol kesehatan juga dapat terpantau.
"Di banding anak-anak dilepaskan di warung-warung kopi, atau bisa jadi juga di balai RW tidak ada yang mengawasi, dan protokol kesehatan bisa jadi tidak dijalankan," jelasnya. "Ya kalau ada pihak yang membantu (mefasilitasi belajar online) perlu diawasi juga, bagaimana proses (pembelajaran) yang terjadi."
"Kalau tidak, betul tidak ada klaster sekolah tapi akan muncul klaster baru di tempat publik itu, dan klasternya bukan hanya COVID-19, namun klaster kerusakan molar karena tidak ada pengawasan," imbuhnya. "Sampai sekarang cara belajar kita masih tertatih-tatih meskipun ada daring. Gurunya tidak siap, orang tuannya tidak siap, murid tidak siap, pemerintah juga tidak siap."
(wk/nidy)