Madu Hutan Kian Diminati Kala Pandemi, Ternyata Ini Alasannya
Nasional

Tidak sama dengan madu yang dihasilkan di peternakan pada umumnya, madu hutan dihasilkan secara alami dari lebah-lebah liar yang hidup bebas di hutan.

WowKeren - Selama pandemi COVID-19, permintaan akan madu hutan meningkat dua kali lipat dari kondisi normal. Alhasil, petani madu di Dusun Pangisoreng, Kecamatan Mallawa, Kabupaten Maros, Sulsel pun banjir pesanan.

Salah satu petani madu hutan, Monru, menyebut jika saat kondisi normal, ia dan keluarganya hanya mengumpulkan sekitar 150 botol dalam satu bulan. Namun sejak adanya pandemi ini, jumlah itu bisa meningkat dua kali lipat.

"Kalau biasanya memenuhi permintaan pelanggan atau pedagang pengumpul hanya 150 botol sebulan," kata Monru dilansir Antara, Senin (27/7). "Sekarang empat bulan terakhir rata-rata 300 botol sebulan."

Permintaan madu hutan yang melonjak di kala pandemi ini disebabkan karena madu sangat berguna untuk membantu meningkatkan imunitas tubuh. Kendati demikian, para petani tidak menaikkan harga meskipun permintaan meningkat.


Sejak awal, harga yang ditetapkan oleh petani madu di Mallawa adalah Rp 100.000 per botol yang mana angka ini sudah menjadi standar dan disepakati kelompok petani madu. Hal itu juga dibenarkan salah seorang tokoh masyarakat Mallawa yang juga Pembina Desa di Mallawa, H Bustam.

Ia menyebut jika produksi madu hutan di wilayah tersebut cukup terkenal. Yang mana, hal ini cukup baik dalam meningkatkan perekonomian.

"Ini juga dapat meningkatkan kesejahteraan petani," kata dia masih dilansir Antara. "Khususnya mereka yang pekerjaannya berburu madu di hutan, sekaligus meningkatkan perekonomian desa."

Madu hutan tidak sama dengan madu yang dihasilkan dari peternakan lebah. Seperti namanya, madu ini dihasilkan dari lebah yang hidup bebas di hutan. Lebah-lebah ini pada umumnya bersarang di pepohonan yang tinggi ataupun tebing yang sulit dijangkau dan berbahaya.

(wk/zodi)

Follow Berita WowKeren.com di Google News

You can share this post!

Berita Terkait