Namanya Dicatut di Kasus Viral Dosen 'Pamer' Fetish Swinger Berkedok Riset, UGM Angkat Bicara
Nasional

Dosen berinisial BA di Yogyakarta melecehkan sejumlah perempuan dengan modus riset akademik. Namun belakangan terungkap BA hanya mencatut nama-nama universitas tertentu.

WowKeren - Beberapa waktu belakangan Indonesia dibuat geger dengan utas viral pelecehan seksual berkedok riset akademik. Bila sebelumnya dilakukan oleh seorang mahasiswa bernama Gilang "fetish kain jarik", maka kali ini seorang dosen berinsial BA yang dengan sengaja memamerkan aktivitas swinger alias tukar pasangan kepada sejumlah perempuan dengan modus riset.

Kejadian ini menjadi viral usai korban angkat bicara lewat status Facebook-nya. Kemudian semakin ramai dibahas pasca sang dosen mengunggah video klarifikasi serta permintaan maaf.

Salah satu korbannya adalah seseorang yang pernah menempuh pendidikan di luar negeri serta pengalamannya di Indonesia Corruption Watch (ICW). Namun perlahan-lahan yang dibahas jadi "melenceng", termasuk dengan mengungkap keinginannya menjalani aktivitas seksual swinger demi risetnya.

"Cara mendekati aku dan target lain dengan modus riset itu dilakukan bertahap. Enggak langsung," ungkap sang korban, dilansir CNN Indonesia, Senin (3/8). "(Ia cerita ditegur sang istri karena mencoba praktik swinger demi riset) kubilang wajar istri marah karena dia ngawur. Mau meneliti soal pembunuh, ya, tak harus jadi pembunuh."


Korban mengungkap BA tak kehabisan akal untuk melecehkan lewat pembicaraan sarat muatan seksual itu. Hingga menyebabkan para korban berkumpul untuk menindaklanjuti tindak tak menyenangkan dari BA.

Namun tidak hanya itu, Universitas Gadjah Mada pun akan ikut menindaklanjuti kasus tersebut. Sebab BA mencatut nama UGM sebagai instansi tempatnya bekerja. Padahal UGM mengaku tak pernah memiliki sivitas akademika bernama BA.

"Sudah kami telusuri di daftar nama mahasiswa UGM saat ini, tetapi tidak ketemu. Kami cek di pendaftaran pascasarjana juga tidak ditemukan nama tersebut," ujar UGM. Kepala Bagian Humas UGM, Iva Ariani, juga memastikan bahwa BA tidak tercatat sebagai dosen di sana.

Dikonfirmasi terpisah, Rektor Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Yoyakarta, Purwo Santosa, membenarkan bahwa BA pernah membantu mengajar mata kuliah tertentu, termasuk bergabung dalam komunitas peneliti. Namun Purwo membantah yang bersangkutan pernah menjadi dosen tetap. "Memang benar dia mencatut, karena dia tidak pernah tercatat sebagai dosen tetap di UNU," tegas Purwo.

(wk/elva)

You can share this post!

Related Posts