Curhat Wanita Pasuruan Dipaksa Ungkap Ibunya Kena Corona, Pihak Rumah Sakit Buka Suara
Reuters/Willy Kurniawan
Nasional
COVID-19 di Indonesia

Wanita di Pasuruan mengaku secara blak-blakan ia dipaksa mengakui jika sang ibu terinfeksi virus corona. Mendengar itu, pihak rumah sakit yang menangani angkat berbicara.

WowKeren - Seorang wanita di Pasuruan baru saja mengungkapkan rasa tidak terimanya setelah sang ibu yang terkena diabetes dinyatakan terinfeksi virus corona. Wanita bernama Tirani Ika Pratiwi ini curhat jika ia merasa dipaksa oleh RSUD dr R Soedarsono Kota Pasuruan untuk mengakui jika sang ibu terkena COVID-19.

Tirani menceritakan jika sang ibu meninggal dunia saat dirawat dan juga dinyatakan positif virus corona. Oleh sebab itu, pihak rumah sakit meminta tanda tangan kepada keluarga pasien untuk melakukan pemulasaraan jenazah sesuai dengan protokol pemakaman COVID-19.

Tirani kemudian menyebut saat ingin menjemput jenazah sang ibu, ia merasa dipaksa untuk menandatangani surat yang menyatakan ibunya positif corona. Jika menolak menandatangani, ia mengungkapkan merasa dipersulit oleh pihak rumah sakit terkait pengambilan jenazah. Oleh sebab itu, ia terpaksa setuju pemakaman dilakukan dengan protap.

“Kalau tanda tangan kan persetujuan tapi tidak pemaksaan,” ungkap Tirani seperti dilansir dari Detik, Selasa (4/8). “Kalau nggak mau protap COVID-19, keluarga harus membuat surat penolakan protokol COVID-19 tapi keluarga ini kan tidak membuat itu.”


”Saat mengambil jenazah pun saya masih dipaksa tanda tangan surat yang menyatakan ibu saya COVID-19 tetapi saya tetap menolak,” sambungnya. “Pengambilan jenazah dipersulit. Saya bersedia menjalani protokol pemakaman sesuai anjuran pemerintah bukan berarti isinya harus mengiyakan ibu saya terkena COVID-19.”

Menanggapi hal tersebut, pihak rumah sakit dengan tegas membantah adanya pemaksaan. Direktur RSUD dr R Soedarsono Kota Pasuruan, dr Tina Soelistiani lantas menjelaskan kronologi kejadian yang menimpa pasien tersebut. Menurutnya, pihak rumah sakit sama sekali tidak melakukan pemaksaan dan itu semua hanyalah rangkaian pemeriksaan medis saja.

”Kalau pasien nonreaktif tetap dilakukan pemeriksaan foto rontgen dan laboratorium,” jelas Tina. “Setelah itu konsultasi dokter spesialis. Jadi untuk swab itu nanti juga hasil konsultasi dokter spesialis. Saya kira merasa dipaksa atau tidak itu relatif dari yang menerima. Tapi tujuan utama kita tidak pernah memaksa keluarga pasien.”

”Tujuan kita memberikan keterangan yang sebenar-benarnya,” sambungnya. “Itu kan yang menulis merasa dipaksa, sementara kita dari IGD tidak ada maksud memaksa. Saya pastikan tidak ada pemaksaan seperti itu. Pasien sendiri meninggal dalam status probable COVID-19. Belum di-swab.”

(wk/lian)

You can share this post!

Related Posts