Pertumbuhan ekonomi Indonesia tercatat mengalami kontraksi hingga 5,32 persen di kuartal II tahun ini. Adapun suatu negara disebut mengalami resesi jika pertumbuhan ekonomi negatif dalam dua kuartal berturut-turut.
- Bertilia Puteri
- Rabu, 05 Agustus 2020 - 16:15 WIB
WowKeren - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatatkan ekonomi Indonesia pada Kuartal II 2020 ini mengalami kontraksi hingga 5,32 persen. Kontraksi ini, imbuh BPS, jauh lebih dalam ketimbang prediksi yang sempat diungkap pemerintah maupun Bank Indonesia, yakni di kisaran 4,3 sampai 4,8 persen.
Akibatnya, resesi semakin tampak di depan mata. Adapun suatu negara disebut mengalami resesi jika pertumbuhan ekonomi negatif dalam dua kuartal berturut- turut.
Banyak ekonom yang juga merasa pesimistis ekonomi akan tumbuh positif di kuartal III dan kuartal IV. Padahal kuartal III dan IV menjadi kunci agar ekonomi Indonesia tidak mengalami kontraksi berturut-turut.
Lantas, apa dampak yang akan dirasakan jika Indonesia resmi memasuki jurang resesi seperti Singapura dan Korea Selatan? Menurut Direktur Riset Core Indonesia, Piter Abdullah, dunia usaha akan merasakan dampak yang besar jika resesi benar terjadi.
Perusahaan disebut akan melakukan penghematan besar- besaran, sehingga gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) tak dapat dihindari. Selain itu, daya beli juga otomatis akan menurun karena masyarakat mulai menghemat pendapatan mereka.
"Mereka yang kehilangan income, akan kehilangan daya beli, mengurangi konsumsi," ungkap Piter dilansir Kumparan pada Rabu (5/8). "Mereka yang masih punya income, juga akan menunda konsumsi, utamanya pada barang sekunder atau barang mewah."
Tak hanya daya beli yang menurun, para pencari kerja juga disebut akan kesulitan di masa resesi. Pasalnya, perusahaan yang tak kuat menanggung resesi akan mengurangi jumlah karyawan atau bahkan menutup usaha mereka.
Perusahaan yang mampu bertahan pun diprediksi tidak akan menerima karyawan baru di masa resesi. Oleh sebab itu, jumlah lowongan kerja juga akan menurun.
Terkait hal ini, jumlah perusahaan yang memasang iklan lowongan kerja rupanya telah menurun drastis dalam survei data BPS periode Januari - April 2020. Menurut Kepala BPS Suhariyanto, jumlah perusahaan yang memasang iklan lowongan kerja turun lebih dari 50 persen di April 2020, sementara jumlah iklan lowongan kerja turun lebih dari 75 persen.
Resesi juga akan meningkatkan angka kemiskinan di Indonesia. Pemerintah sendiri memproyeksi angka kemiskinan bertambah 1,89 juta orang pada skenario berat dan bertambah 4,86 juta orang pada skenario sangat berat di tahun 2020 ini.
(wk/Bert)