Pakai Media Api, Satgas COVID-19 NU Ungkap Cara Unik Ketahui Efektifitas Masker Kain
Nasional
COVID-19 di Indonesia

Koordinator Satgas COVID-19 Nahdlatul Ulama (NU), dr Muhammad Makky Zamzami mengatakan jika masyarakat hanya perlu meniupkan api dengan mulut ditutup masker.

WowKeren - Pandemi COVID-19 yang tak kunjung usai membuat masyarakat mau tidak mau harus hidup "berdampingan" dengan virus corona. Pasalnya, vaksin untuk virus ini masih dalam proses pengembangan.

Salah satu perubahan kebiasaan di tengah masyarakat adalah perihal pemakaian masker. Memakai masker merupakan salah satu protokol kesehatan yang berguna untuk pencegahan COVID-19.

Koordinator Satgas COVID-19 Nahdlatul Ulama (NU), dr Muhammad Makky Zamzami, MARS, mengungkap cara sederhana untuk mengetahui apakah masker efektif dalam menyaring virus. Cara ini dilakukan dengan menggunakan media api.

Makky mengatakan masyarakat hanya perlu meniupkan api dengan mulut ditutup masker. Jika sumber api tidak padam atau goyang maka itu artinya masker memiliki fungsi penyaringan yang baik.


Sumber api bisa menggunakan korek gas maupun korek batang. Namun karena media yang digunakan adalah api maka cara ini tidak disarankan untuk dicoba oleh anak-anak karena bisa membahayakan.

"Nah ini jika apinya tidak tertiup atau goyang berarti penghambatan di kain ini cukup bagus," kata Makky saat diskusi 'Gerakan Membiasakan Ber-Masker' di Gedung BNPB, Jumat (7/8/). "Jadi masyarakat bisa mempraktikan dengan korek api saja."

Saat ini, memang ada berbagai macam masker kain yang dijual bebas. Tak jarang masker yang ditawarkan memiliki motif yang bagus untuk menarik pembeli. Namun, Makky menyarankan agar masyarakat tidak membeli masker karena hanya tertarik pada motif yang dimiliki namun juga memperhatikan kualitas bahan.

Kendati demikian, perlu diingat jika pengujian tersebut hanya sebagai indikator awal. Sehingga tes dengan meniup api tidak bisa menjamin masker dapat menyaring virus atau bakteri secara maksimal. Hal itu sebagaimana dikatakan oleh peneliti nanoteknologi dari Loka Penelitian Teknologi Bersih (LPTB) Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Dr Eng Muhamad Nasir.

"Itu hanya indikator awal saja," kata dia beberapa waktu lalu. "Sebab untuk mengecek filter ada syaratnya seberapa bisa dia menahan bakteri kemudian berapa partikulat yang bisa ditahan."

(wk/zodi)

You can share this post!

Related Posts