Acara deklarasi Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia (KAMI) ini membuat ahli pandemi dan epidemiologi dari Universitas Griffith Australia, Dicky Budiman, mengingatkan adanya potensi klaster COVID-19.
- Bertilia Puteri
- Selasa, 18 Agustus 2020 - 15:49 WIB
WowKeren - Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia (KAMI) melakukan aksi deklarasi di Lapangan Tugu Proklamasi, Menteng, Jakarta Pusat, pada Selasa (18/8) hari ini. Deklarasi ini diikuti oleh sejumlah tokoh publik, seperti Rocky Gerung, Din Syamsuddin, Gatot Nurmantyo, Said Didu, hingga Refly Harun.
Dalam kesempatan tersebut, KAMI membacakan delapan tuntutan untuk pemerintah dan juga Presiden Joko Widodo. Agenda ini juga bertepatan dengan hari lahirnya Konstitusi.
Acara deklarasi KAMI ini membuat ahli pandemi dan epidemiologi dari Universitas Griffith Australia, Dicky Budiman, mengingatkan adanya potensi klaster virus corona (COVID-19). Pasalnya, massa yang terkumpul dalam acara tersebut tampak tak menerapkan physical distancing alias menjaga jarak.
"Bila tidak mematuhi atau menerapkan upaya pencegahan tentu berpotensi terjadi klaster," tutur Dicky dilansir CNN Indonesia. Sejumlah anggota yang hadir dan para tokoh publik KAMI memang tampak mengenakan masker maupun face shield.
Namun, para peserta tampak berdempetan. Tokoh publik yang berada di podium juga tampak tak menerapkan protokol physical distancing. Hal ini lantas dikritik oleh Dicky.
Menurut Dicky, hal ini menandakan ada sejumlah elemen masyarakat yang tidak disiplin menerapkan protokol kesehatan. "Semua komponen masyarakat harus tetap disiplin dalam penerapan intervensi tanpa obat dan vaksin yaitu penerapan perilaku pencegahan," ujar Dicky.
Dicky lantas mencontohkan mega klaster corona yang terbentuk usai demonstrasi Black Lives Matter di Melbourne, Australia. Menurut Dicky, demo yang dihadiri sekitar 10 ribu orang itu mengabaikan penggunaan masker dan physical distancing sehingga menjadi mega klaster COVID-19. "Terdapat 242 kasus yang terjadi di gedung apartemen di kota terhubung atau terkait pada aksi demonstrasi Black Lives Matter protes di Melbourne sebulan lalu," ungkapnya.
Sebagai informasi, mantan Ketua Umum Pengurus Pusat (PP) Muhammadiyah Din Syamsuddin telah mengumumkan keberadaan KAMI pada 2 Agustus 2020 lalu. Menurut Din, ada lebih dari 150 orang yang akan turut hadir dan menjadi anggota koalisi tersebut. Para anggota koalisi disebut akan mewakili sejumlah unsur dan elemen masyarakat, mulai dari tokoh lintas agama, cendekiawan, akademisi, profesional, aktivis, buruh, dan angkatan muda.
(wk/Bert)