Dianggap Sebagai 'Barisan Para Mantan', KAMI Beri Jawaban Mengejutkan
Nasional

Ketua Komite Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia, Ahmad Yani, membenarkan bahwa para mantan pejabat era Jokowi yang bergabung ke KAMI tersebut memang sakit hati, namun bukan karena dipecat.

WowKeren - Mantan Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Din Syamsuddin, dan sejumlah tokoh publik lainnya telah mendeklarasikan Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia (KAMI) pada Selasa (18/8) hari ini. Sayangnya, ada anggapan bahwa KAMI diisi oleh barisan para mantan pejabat yang sakit hati karena dipecat oleh Presiden Joko Widodo.

Isu ini beredar usai sejumlah mantan pejabat era Jokowi disebut menjadi deklarator KAMI. Di antaranya adalah mantan Komisaris PT Pelindo I Refly Harun, mantan Menko Kemaritiman Rizal Ramli, eks Menko Polhukam Laksamana (Purn) Tedjo Edhy Purdijatno, mantan Panglima TNI Gatot Nurmantyo, hingga eks stafsus Menteri ESDM Said Didu.

Menanggapi isu ini, Ketua Komite KAMI Ahmad Yani memberikan bantahan. Menurut Ahmad Yani, KAMI justru beranggotakan anggota DPD aktif, dosen, bahkan guru besar.

"Salah, enggak ada (barisan mantan)," tutur Ahmad Yani usai deklarasi KAMI di Tugu Proklamasi, Jakarta, pada hari ini. "(Yang) ada anggota DPD, beberapa anggota DPD yang masih aktif, ada masih dosen-dosen yang masih aktif, guru besar-guru besar yang masih aktif, pengusaha."


Meski demikian, Ahmad Yani tak membantah ada mantan pejabat era Jokowi yang juga menjadi anggota KAMI. Ahmad Yani menyebut mereka sebagai "buzzer".

"Tapi memang ada aktivitas, memang ada sebagian juga para purnawirawan dan mantan-mantan pejabat," jelas Ahmad Yani. "(Purnawirawan dan mantan pejabat) itu sedikit sekali dari jumlahnya. Itu bagian dari yang namanya buzzer."

Lebih lanjut, Ahmad Yani menjelaskan bahwa para mantan pejabat era Jokowi yang bergabung ke KAMI tersebut memang sakit hati. Namun Ahmad Yani menegaskan bahwa sakit hati tersebut bukan karena dipecat Jokowi.

"Bagian dari buzzer ini dianggap kelompok barisan sakit hati, kelompok yang ingin kudeta, kelompok yang sakit jiwa dan lain sebagian. Kami betul sakit hati," ungkap Ahmad Yani. "Sakit hati kami bagaimana rakyat yang tidak diurus sebagaimana mestinya. Kami sakit hati bagaimana rakyat tidak dapat bekerja, tetapi tenaga kerja asing masuk di Indonesia begitu mudah."

(wk/Bert)

Follow Berita WowKeren.com di Google News

You can share this post!

Berita Terkait