Anies Baswedan Dinilai Kebingungan Tangani Pandemi Corona
Nasional

Menurut Ketua Fraksi PKB-PPP DPRD DKI Jakarta Hasbiallah Ilyas, Anies hingga kini masih belum menemukan formula yang pas dalam menyelesaikan persoalan pandemi corona.

WowKeren - Kasus virus corona (COVID-19) di DKI Jakarta hingga kini masih terus meningkat. Jumlah kasus positif COVID-19 di Ibu Kota bahkan telah menembus angka 30 ribu sejak Senin (17/8) lalu.

Gubernur DKI Anies Baswedan sendiri dinilai masih kebingungan dalam menangani pandemi corona. Tes swab dan rapid test yang masif digalakkan di Ibu Kota dinilai masih belum cukup menyelesaikan permasalahan pandemi ini.

Menurut Ketua Fraksi PKB-PPP DPRD DKI Jakarta Hasbiallah Ilyas, Anies hingga kini masih belum menemukan formula yang pas dalam menyelesaikan persoalan tersebut. "Belum menemukan cara yang pas intinya. Pak Anies belum menemukan cara yang pas (menangani pandemi corona)," terang Ilyas dilansir CNN Indonesia pada Rabu (19/8).

Adapun pernyataan Ilyas ini disampaikan usai Anies mengatakan bahwa Pemprov DKI kini serba tidak tahu mengenai virus corona yang tak kasat mata. Mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan tersebut mengibaratkan situasi saat ini sebagai perjalanan ke kawasan yang belum masuk dalam peta.

Menurut Ilyas, penyebaran virus corona di DKI masih belum sepenuhnya terdeteksi. Ia bahkan menilai tes swab dan PCR di Ibu Kota masih kurang masif.


Realitas di lapangan dinilai telah menunjukkan kebingungan Anies. Pasalnya, tes massal yang dilakukan tidak berdampak pada penurunan angka kasus positif COVID-19 di DKI.

"Cara penyelesaiannya Pak Anies mungkin bingung, penanganan corona ini," jelas Ilyas. "Penyelesaiannya bagaimana, ini corona dihantam gini, udah 4 kali lipat (tes) dari WHO, tapi kenyataannya di DKI enggak kurang-kurang kan (kasus positif)."

Ilyas pun menilai yang dapat dilakukan oleh Pemprov DKI saat ini adalah memperketat pengawasan. Ia menilai bahwa pengawasan yang dilakukan Pemprov DKI saat ini masih belum maksimal.

"Ini bagaimana caranya jajaran Pak Anies ini melakukan pengawasan yang lebih ketat, PSBB kan diterapkan, coba ada enggak perubahan PSBB diterapkan sama enggak diterapkan? Sama aja," ungkap Ilyas. "Itu penyebabnya pengawasannya kurang maksimal."

Meski demikian, Ilyas menyadari bahwa persoalan ini tidak hanya dihadapi DKI atau daerah lain di Indonesia, namun juga berbagai belahan dunia. Ilyas juga menyadari bahwa DKI sebagai pusat pemerintahan dan kegiatan ekonomi kesulitan memantau pergerakan orang dari luar daerah.

"Karena kan di Jakarta ini, mohon maaf banyak orang-orang daerah yang masuk ke Jakarta tiap hari, itu yang tidak terdeteksi," pungkasnya. "Coba bayangkan, berapa banyak orang Bekasi tiap hari masuk Jakarta, dan di Bekasi pun berjalan enggak itu (penerapan protokol kesehatan)."

(wk/Bert)

Follow Berita WowKeren.com di Google News

You can share this post!

Berita Terkait