Jakarta Terus 'Panen' Kasus Positif Corona, Anies Baswedan: Ini Kabar Baik
Nasional

Gubernur DKI Jakarta itu menanggapi masalah lonjakan kasus positif COVID-19 dengan positif. Pasalnya Anies menilai kenaikan ini berbanding lurus dengan masifnya upaya tracing pemerintah.

WowKeren - DKI Jakarta tengah bertransformasi menjadi pusat penyebaran wabah COVID-19 selama beberapa waktu belakangan. Sebab dilaporkan hingga Rabu (19/8) kemarin ada 31.016 kasus positif COVID-19 di Ibu Kota.

Tak hanya jumlah kumulatif, pertambahan kasus positif tiap harinya pun cukup menyita perhatian, seperti misalnya kemarin bertambah sampai lebih dari 500 kasus. Namun situasi ini rupanya ditanggapi positif oleh Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan yang mengasosiasikannya sebagai kabar baik.

"Sering kali kalau dengar ditemukan kasus positif diasosiasikan sebagai kabar buruk," ujar Anies dalam Peringatan 1 Muharram atau Tahun Baru Islam 1442 Hijriah di Jakarta, Kamis (20/8). "Sesungguhnya kalau ditemukan kasus positif dalam kondisi wabah artinya kabar baik."

Menurutnya, temuan kasus-kasus positif ini bisa mendeteksi penularan COVID-19. Sehingga yang sakit bisa segera dibawa ke rumah sakit atau melakukan isolasi mandiri.


"Kalau tidak ditemukan, mereka bepergian ke mana-mana, menularkan wabah," ungkap Anies, dilansir dari Media Indonesia. "Nah, Jakarta melakukan pencarian secara agresif."

Kembali pada kesempatan itu Anies membanggakan tingkat pengetesan COVID-19 di Ibu Kota yang sudah jauh melampaui standar Organsasi Kesehatan Dunia (WHO). "Alhamdulillah di Jakarta ini bukan 10 ribu, tapi kita melakukan lebih dari 40 ribu orang per minggu. Karena dikejar, maka ketemu. Karena ketemu, angka positif jadi tinggi," beber Anies.

Namun nyatanya klaim mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan ini tak terlalu dibenarkan oleh Ahli Epidemiologi UI, Pandu Riono. Pandu menilai kapasitas tes yang disiapkan Pemprov DKI Jakarta memang besar, namun tak diimbangi dengan pelacakan yang masif.

"Pelacakan kita (DKI Jakarta) masih kurang banyak," kata Pandu, Kamis (20/8). "Jadi kalau ada 1 orang terkonfirmasi positif, itu dilacak dia sudah bertemu dengan berapa orang, di mana, siapa orangnya."

"Harusnya di atas 30 (orang lain yang dilacak), minimal. Kalau pelacakannya masih di bawah 5, itu belum bagus. Jakarta ada di 5-10. Yang bagus itu 30," imbuhnya, merujuk pada hasil penelitian yang dilakukan Pandu dan koleganya di FKM UI.

(wk/elva)

Follow Berita WowKeren.com di Google News

You can share this post!

Berita Terkait