Kepala Staf TNI AD (KSAD) Jenderal Andika Perkasa juga mengungkapkan beberapa tantangan yang harus dihadapi lembaganya dalam melawan pandemi virus corona.
- Bertilia Puteri
- Selasa, 25 Agustus 2020 - 08:56 WIB
WowKeren - Virus corona (COVID-19) hingga kini masih mewabah dan diketahui dapat menjangkit siapa. Terbukti, ratusan prajurit dan PNS di TNI AD turut dinyatakan positif terjangkit COVID-19.
Menurut Kepala Staf TNI AD (KSAD) Jenderal Andika Perkasa, dari sekitar 900 personel yang positif COVID-19, 21 orang di antaranya dilaporkan meninggal dunia. "Sampai dengan saat ini angkatan darat sudah 21 prajurit PNS yang meninggal karena COVID, per hari ini ada 900-an personel yang tersebar di seluruh Indonesia PNS dan prajurit itu yang juga positif," ungkap Andika dalam peringatan HUT ke-42 BPPT di Jakarta pada Senin (24/8)
Oleh sebab itu, Andika mengingatkan perlunya upaya ekstra dalam menangani pandemi corona. Andika juga mengungkapkan beberapa tantangan yang harus dihadapi TNI AD dalam melawan pandemi corona, salah satunya adalah ketersediaan lab tes PCR.
"Contoh yang paling terlihat adalah ketersediaan lab PCR. Sampai dengan hari ini, itu TNI AD punya 68 RS. Itu kami baru punya 6 lab PCR, padahal seluruh RS kami 68 di seluruh Indonesia," jelas Andika. "Bukannya tak merawat pasien COVID, dan pasien COVID yang dirawat juga bukan hanya prajurit dan PNS."
Menurut Andika, pasien COVID-19 sipil memang diarahkan untuk dirawat di rumah sakit rujukan yang tersedia di daerah masing-masing. Namun dalam beberapa kasus, banyak warga yang positif COVID-19 berobat ke rumah sakit TNI AD lantaran mereka tak sadar telah terjangkit virus tersebut.
"Teorinya rumah sakit rujukan pasien COVID sudah ditentukan di tiap daerah, provinsi-kabupaten," katan Andika. "Tapi prakteknya human nature orang yang sakit belum tentu tahu dia kena COVID, sehingga mencari RS terdekat. Sehingga seluruh rumah sakit kami itu pasti rawat pasien COVID-19."
Dari 68 rumah sakit milik TNI AD tersebut, baru ada enam alat tes PCR yang tersedia. Lab PCR pertama tersedia di RSUD Gatot Soebroto. Setelah itu, TNI AD mendapat alat pinjaman dari BPPT.
"Laboratorium kami yang kedua itu pinjaman dari BPPT, bayangin di saat kami struggling di awal pertengahan Maret itu kami mendapat pinjaman PCR dari BPPT," ungkap Andika. Untuk memaksimalkan penanganan corona, TNI AD melalui pengadaan BNPB telah merencanakan pengadaan 20 unit lab PCR lagi yang ditempatkan di 20 rumah sakit TNI AD.
"Realitasnya saat ini ada empat dari pengadaan 20 itu. Itu pun kontraknya belum dilakukan," kata Andika. "Jadi di saat itu kehadiran lab PCR dua sangat signifikan pak."
Lebih lanjut, Andika mengaku mendapat kabar bahwa Kementerian Pertahanan sudah menandatangani kontrak pengadaan 17 lab PCR untuk TNI AD. Hal ini tentu akan berguna untuk menangani pasien corona di rumah sakit TNI AD.
(wk/Bert)