MAKI Minta Firli Bahuri Mundur Dari Ketua KPK Jika Terbukti Langgar Etik Dalam Sidang
Nasional

Masyarakat Anti-Korupsi Indonesia (MAKI) mendesak Firli Bahuri untuk mundur dari jabatan Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) jika terbukti bersalah dalam sidang.

WowKeren - Ketua Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) telah menjalani sidang dugaan pelanggaran etik pada Selasa (25/8) ini. Dugaan pelanggaran etik Firli sendiri berdasarkan laporan dari Masyarakat Anti-Korupsi Indonesia (MAKI) pada 24 Juni lalu.

Laporan ke Firli ini terkait penggunaan helikopter mewah yang ditumpanginya dalam perjalanan pribadinya ke Sumatera Selatan beberapa waktu lalu. Firli dinilai melanggar kode etik Peraturan Dewan Pengawas KPK Nomor 02 Tahun 2020, yakni tentang pedoman perilaku integritas.

Koordinator MAKI Boyamin Saiman kini mendesak Filri Bahuri untuk siap melepaskan jabatannya sebagai Ketua KPK. Firli diminta mengundurkan diri dari Ketua KPK jika memang terbukti melanggar dugaan etik gaya hidup mewah.

“Saya sampaikan juga jika ini nanti dugaan terbukti melanggar, saya memohon Pak Firli cukup jadi Wakil Ketua,” tegas Boyamin di Gedung KPK Kavling C1, Jakarta Selatan seperti dilansir dari CNNIndonesia pada Selasa (25/8). “Ketua diganti orang lain.”

Boyamin lantas membeberkan persidangan Firli oleh Dewan Pengawas (Dewas) KPK yang telah selesai dilakukan pada hari ini. Ia mengaku membawa beberapa materi dan bukti yang dinilai dapat menguatkan laporan Firli menggunakan helikopter untuk kepentingan pribadi.


Dalam sidang tersebut, Boyamin menyatakan telah mengulang kronologi perjalanan Firli dari Baturaja ke Palembang. Meski demikian, ia menegaskan masih belum dapat menyampaikan secara rinci apa saja yang dibahas selama persidangan.

”Materi yang saya bawa adalah, mohon maaf karena sidang tertutup, tapi setidaknya saya bisa memberitahukan ke teman-teman,” jelas Bonyamin. “Untuk melengkapi data saya, pada bulan Juli saya sudah rekonstruksi ke Baturaja naik mobil dari Palembang.”

Bonyamin juga membantah pernyataan Firli yang menyebut menaiki waktu demi efisiensi waktu. Menurutnya, Firli seharusnya bisa tetap menggunakan jalur darat dengan pengawalan polisi sehingga waktu dapat lebih cepat.

”Perjalanan saya hanya membutuhkan waktu 4,5 jam, dan waktu itu sempat sarapan, jadi sebenarnya kalau pakai kendaraan,” papar Bonyamin. “Apalagi pak Firli pakai voorijder (pengawalan polisi), saya yakin 3 jam sampai, karena jalanannya bagus.”

”Dulu memang 5 tahun lalu jalan rusak dan banyak kendaraan batu bara, sekarang ada jalan pintas,” sambungnya. “Sehingga relevansi naik helikopter demi efisiensi (waktu) itu jadi kayaknya agak diragukan, hanya alasan. Kalau ini bergaya hidup mewah berarti ini sesuai dengan laporan saya.”

(wk/lian)

Follow Berita WowKeren.com di Google News

You can share this post!

Berita Terkait