Indonesia diketahui sudah mengamankan hingga ratusan juta dosis vaksin COVID-19 untuk kebutuhan sampai tahun 2021. Namun belakangan terungkap bahwa vaksin itu bukan untuk anak-anak.
- Elvariza Opita
- Jumat, 28 Agustus 2020 - 11:34 WIB
WowKeren - Menteri Luar Negeri Retno Marsudi sempat menyampaikan bahwa Indonesia telah mengamankan hingga ratusan juta dosis vaksin COVID-19 untuk kebutuhan sampai awal 2021. Namun belakangan terungkap vaksin yang sudah disiapkan pemerintah ini hanya berlaku untuk usia 18 tahun ke atas.
"Dari informasi terakhir, tadinya vaksin COVID-19 yang ada ini berlaku untuk usia pada 18 tahun sampai 59 tahun," ujar Ketua Pelaksana Komite Penanganan COVID-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN), Erick Thohir, dilansir pada Jumat (28/8). "Tetapi dari konfirmasi terakhir usia di atas 59 sudah bisa menerima vaksin ini."
Dengan demikian untuk masyarakat dari golongan usia di bawah 18 tahun, termasuk anak-anak, masih terus dikembangkan dan berproses. Pada kesempatan yang sama, Erick kembali mengingatkan perihal jangka waktu efektivitas vaksin tersebut.
Menteri BUMN ini menyebut vaksin COVID-19 yang sudah "diamankan" Indonesia merupakan solusi jangka pendek, yakni hanya efektif selama 6 bulan sampai 2 tahun. "Jadi bukan vaksin yang disuntik (dan efektif) selamanya," ujar Erick.
Erick juga sempat menyinggung perihal kerja sama Indonesia dengan sejumlah perusahaan internasional, seperti Sinovac dari Tiongkok dan G42 dari Uni Emirat Arab (UEA). Namun ada perbedaan kerja sama antara kedua perusahaan tersebut, yakni Sinovac lebih fokus pada pengembangan dan produksi vaksin, sedangkan untuk G42 cakupannya lebih luas.
"Dengan Sinovac, kita menekankan bahwa kita ingin bekerja sama tidak hanya dalam proses memproduksi," terang Erick. "Tetapi juga kita ingin adanya transfer teknologi untuk penggunaan atau juga producing daripada vaksin COVID-19."
Erick memastikan bahwa vaksin buatan G42 saat ini sudah melakukan uji klinis sendiri di UEA. Menurut Erick, hasil uji klinisnya sejauh ini masih berjalan dengan baik.
"G42 memang pada saat ini sudah melakukan uji klinis sendiri di UEA kepada 45 ribu relawan dari 85 suku bangsa. Karena itu kami mengutus tim ke UAE sebagai reviewer untuk mensinkronisasikan sistem," imbuh Erick. "Saya mendapat laporan sistemnya berjalan dengan baik dan sepertinya BPOM kita bisa menerima uji klinis yang berjalan di UEA."
(wk/elva)