Adapun 3.003 kasus positif COVID-19 yang dilaporkan pada Jumat (28/8) kemarin tersebar di 31 provinsi. DKI Jakarta menjadi penyumbang tertinggi dengan 869 kasus
- Bertilia Puteri
- Sabtu, 29 Agustus 2020 - 15:00 WIB
WowKeren - Indonesia baru saja memecahkan rekor kasus COVID-19 harian pada Jumat (28/8) kemarin, yakni 3.003 orang dilaporkan positif dalam sehari. Dengan demikian, jumlah kasus positif COVID-19 di Tanah Air kini telah mencapai 165.887 pasien.
Adapun 3.003 kasus COVID-19 yang dilaporkan kemarin tersebar di 31 provinsi. DKI Jakarta menjadi penyumbang tertinggi dengan 869 kasus, disusul oleh Jawa Barat dengan 526 kasus dan Jawa Timur dengan 417 kasus. Adapun Bangka Belitung, Kalimantan Barat, dan Kalimantan Tengah menjadi provinsi yang melaporkan nihil kasus COVID-19 kemarin.
Epidemiolog Griffith University, Dicky Budiman, menilai bahwa Indonesia kini telah memasuki fase kritis awal terkait pandemi corona. Oleh sebab itu, ia mengingatkan agar Indonesia terus melakukan penguatan kuantitas dan kualitas testing virus corona.
"Indonesia ini sudah memasuki fase kritis awal yang diperkirakan mengalami puncak di awal Oktober 2020, khususnya Jawa," ungkap Dicky dilansir Kompas.com. "Ini bisa berlangsung lama, bisa sampai akhir tahun."
Ada sejumlah indikator yang mendasari Indonesia memasuki fase kritis awal pandemi corona. Yang pertama adalah jumlah kasus positif harian yang semakin tinggi.
Agar kasus COVID-19 yang dilaporkan valid, maka testing yang dilakukan pun harus optimal. Menurut Dicky, hingga saat ini hanya DKI Jakarta yang bisa dinilai secara valid karena memiliki cakupan tes memadai dan memenuhi target Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), yaitu satu tes per seribu orang per minggu.
"Untuk melihat secara valid berapa kasus baru harian, tentu harus diakukan dengan testing yang optimal, baik kuantitas maupun kualitas," jelas Dicky. "Bila ini tak bisa kita nilai, itu bukan sesuatu yang aman-aman saja. Malah sebaliknya, kita berada dalam posisi yang rawan karena kita tidak bisa menilai situasi sesungguhnya di wilayah tersebut."
Kemudian indikator yang kedua adalah infection rate yang juga dipengaruhi oleh kapasitas testing. Dicky menjelaskan bahwa infection rate menilai seberapa parah virus corona telah menyebar.
Yang ketiga adalah positivity rate, baik di level nasional maupun daerah, yang kini berada di atas rata-rata global atau indikator WHO. Pihak WHO sendiri mematok positivity rate di bawah 5 persen. "Rata-rata kita di atas 10 persen, belum pernah turun di bawah 10 persen. Tentu ini situasinya rawan," kata Dicky.
Kemudian indikator terakhir adalah persentase penggunaan tempat tidur rumah sakit yang kini menunjukkan peningkatan. Menurut Dicky, setiap daerah harus melakukan evaluasi terhadap indikator-indikator tersebut untuk melihat sejauh mana tingkat keseriusan kondisi Covid-19.
(wk/Bert)