Ahli epidemiologi dari Unair menyebut jika kasus penyebaran virus corona (COVID-19) di Indonesia berbeda dari negara lain karena sangat lambat, beri bukti dan penjelasan ini.
- Ruth Meliana
- Sabtu, 29 Agustus 2020 - 16:54 WIB
WowKeren - Pemerintah Indonesia saat ini masih terus berjuang dalam melawan penyebaran virus corona yang sudah merebak sejak awal Maret lalu. Hingga saat ini, kasus COVID-19 di Indonesia sudah menginfeksi lebih dari 160 ribu orang.
Ahli epidemiologi asal Universitas Surabaya (Unair), dr Windhu Purnomo menyebut jika penyebaran virus corona di Tanah Air sangatlah lambat dan berbeda dari negara lain. Pasalnya, sudah hampir 6 bulan COVID-19 merebak dan Indonesia tak kunjung mencapai puncak pandemi.
”Kita ini sudah hampir enam bulan, negara-negara yang lain itu dua bulan sudah selesai, kita enam bulan puncaknya saja belum sampai,” ungkap Windhu seperti dilansir dari Detik, Sabtu (29/8). “Jadi sekarang ini betul-betul harus banting setir mau mengencangkan ikat pinggang erat-erat, demi apa, demi ini supaya hilang.”
Windhu menyoroti pemerintah yang dinilai tidak serius menangani pandemi virus corona. Hal ini terlihat dari kebijakan pemerintah yang berubah-ubah dan tidak konsisten. Dari yang awalnya menerapkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) kini justru mulai melonggarkan berbagai aktivitas di tengah lonjakan kasus.
Situasi tersebut justru menyebabkan pandemi virus corona di Indonesia tak kunjung selesai dan mengalami penurunan kasus. Menurutnya, pemerintah sebaiknya fokus terhadap penanganan virus corona sampai menghilang, setelah itu semua sektor dapat dibuka kembali seperti sediakala.
”Kalau pandemi ini hilang semua akan jalan sendiri. Ekonomi akan jalan sendiri, sosial politik jalan sendiri,” saran Windhu. “Jadi intinya pandemi ini yang harus segera dikerjakan dan dihilangkan bukan yang kepentingan lain itu.”
”Kalau tidak begitu ya tidak akan selesai-selesai,” sambungnya. “Karena kita ini sekarang sudah enam bulan, tepat tanggal 2 September nanti sudah tepat enam bulan kita sejak ada kasus baru di Indonesia. Sudah terlalu lama.”
Selain menyoroti pemerintah, Windhu juga memperingatkan masyarakat yang masih tidak patuh menerapkan protokol kesehatan COVID-19. Ia berpesan agar warga tidak boleh lelah dan malas dalam memakai masker, membersihkan tangan, hingga selalu menjaga jarak saat beraktivitas. Kedisiplinan tersebut dinilai menjadi satu-satunya cara penularan virus bisa ditekan.
”Capek (menggunakan masker) itu kan wajar, tapi capek itu jangan kemudian meningkatkan risiko,” papar Windhu. “Kalau capek, lalu meningkatkan risiko itu berarti namanya membunuh dirinya sendiri maupun membunuh orang lain. Karena kalau dia (warga) tidak patuh itu bukan sekadar dia meningkatkan risiko tertular kepada dirinya, tetapi juga meningkatkan risiko menulari orang lain.”
”Jadi itu kuncinya, butuh peranan pemerintah jangan sampai orang itu merasa dirinya capek sehingga tidak patuh dan pemerintah harus cepat. Jangan seperti sekarang ini cuma separuh-separuh semua,” lanjutnya. “Karena pertimbangan epidemiologi dan pertimbangan kesehatan masyarakat ditinggal dan yang dipentingkan adalah pertimbangan lain.”
(wk/lian)