Ikatan Dokter Indonesia Jawa Timur melaporkan sebanyak 223 dokter dan 637 perawat positif terinfeksi virus corona (COVID-19) di Jatim. IDI beberkan penyebab utamanya.
- Ruth Meliana
- Senin, 31 Agustus 2020 - 09:06 WIB
WowKeren - Jawa Timur menjadi salah satu provinsi di Indonesia yang menyumbang kasus virus corona tertinggi. Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Jawa Timur melaporkan data terbaru terkait jumlah tenaga medis yang terinfeksi COVID-19.
Ketua IDI Jatim, dr. Sutrisno menyebutkan hingga Senin (31/8), sudah ada 223 dokter yang dinyatakan positif terinfeksi virus corona di Jatim. Dari jumlah itu, sebanyak 27 dokter dilaporkan meninggal dunia.
Sutrisno juga memaparkan data perawat yang terinfeksi COVID-19. Tercatat ada 637 perawat yang terpapar virus corona. Sebanyak 18 perawat diantaranya dilaporkan telah meninggal dunia.
Selain itu, ada 84 bidan yang terinfeksi virus corona dan 7 diantaranya meninggal dunia. Lalu ada 40 analisis kesehatan dan 18 tenaga rekam medis dinyatakan terkena COVID-19. Selanjutnya sebanyak 25 radiografer juga terpapar virus corona, dimana 1 diantaranya meninggal dunia.
”Selanjutnya tercatat 84 bidan positif COVID-19, 7 diantaranya meninggal dunia,” kata Sutrisno dalam webinar bertajuk 'Upaya Penurunan Dampak Resiko COVID-19 pada Nakes' yang diselenggarakan IDI Jatim, (30/8). “Ada pula 40 tenaga analis kesehatan yang terpapar COVID-19, 18 tenaga rekam medis juga positif, dan 25 radiografer positif COVID-19, 1 diantaranya meninggal dunia.”
Berdasarkan data yang dikumpulkan IDI, sebanyak 80 persen dari 223 dokter yang terkonfirmasi positif virus corona adalah dokter umum. IDI lantas mengungkapkan penyebab utama banyak tenaga kesehatan yang terinfeksi COVID-19 di Jatim.
Menurut Sutrisno, faktor kelelahan menjadi penyebab banyaknya dokter hingga perawat terpapar virus asal Wuhan tersebut. Selain itu, penggunaa Alat Pelindung Diri (APD) yang tak sesuai standard juga menjadi faktor penyebab banyaknya tenaga medis yang terinfeksi bahkan gugur akibat virus corona.
”Tenaga diforsir dan istirahat kurang,” ungkap Sutrisno. “Begitu pula saat praktek di luar rumah sakit, terkadang APD nya masih tidak sesuai standard.”
Sementara itu, Dr. Meivy Isnoviana menyarankan agar dokter mengurangi jam prakteknya selama pandemi virus corona dan lebih memaksimalkan layanan secara telemedicine. Layanan tersebut dinilai dapat meminimalisir kontak langsung dengan pasien dan menekan laju penularan virus.
”Jam praktek sebaiknya dikurangi, jika di masa sebelum pandemi bisa praktek setiap hari, sekarang dikurangi jadi tiga minggu sekali, misalnya,” kata Meivy. “Berganti dengan layanan telemedicine. Protokol kesehatan harus ya.”
”Mulai dari cek suhu tubuh pasien sebelum masuk ke tempat praktek, hingga dokter memakai APD minimal yang level dua,” sambungnya. “Jangan pernah beranggapan 'Saya masih bisa, masih mampu kok', tubuh kita ada batasannya jangan diforsir.”
(wk/lian)