Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam) Mahfud MD memberikan sindirannya terhadap pondok pesantren yang berubah jadi klaster corona.
- Ruth Meliana
- Senin, 31 Agustus 2020 - 14:34 WIB
WowKeren - Sejumlah pondok pesantren di Indonesia dilaporkan telah menjadi klaster penyebaran virus corona (COVID-19). Situasi ini rupanya menarik perhatian Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan (Menko Polhukam) Mahfud MD.
Mahfud melontarkan sindirannya terkait banyaknya pondok pesantren yang menjadi klaster COVID-19. “Mungkin protokol kesehatan tidak ini (dijalankan), kan soal protokol kesehatan saja,” kata Mahfud seperti dilansir dari CNNIndonesia, Senin (31/8).
Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) ini menilai pondok pesantren yang menjadi klaster virus corona tersebut karena tidak disiplin menerapkan protokol kesehatan. Diantaranya dengan memakai masker, rajin mencuci tangan, hingga menerapkan jaga jarak.
Protokol kesehatan tersebut dinilai Mahfud seharusnya menjadi program utama dalam setiap pondok pesantren di Tanah Air. Belajar dari sejumlah klaster yang muncul, Mahfud lantas mengingatkan pondok pesantren hingga seluruh masyarakat Indonesia untuk tidak pernah bosan dan disiplin dalam menerapkan protokol kesehatan selama pandemi.
”Karena kewajiban melawan penyakit itu sama dengan kewajiban menjalankan agama, apa gunanya kita mau belajar, mau dakwah kalau kita tidak sehat, kalau kita terancam oleh penyakit,” ujar Mahfud. “ Oleh sebab itu, kalau pesantren ingin maju, ya ikuti protokol kesehatan.”
Dalam kesempatan ini, Mahfud juga mengatakan bagaimana upaya pemerintah saat ini yang juga berusaha untuk memulihkan perekonomian Indonesia. Upaya pemerintah tersebut harus diiringi dengan kekompakan masyarakat yang ikut berpatisipasi dalam penanggulangan pandemi.
”Dua cabang ini tidak boleh (sendiri),” tegas Mahfud. “Tidak boleh kita mau memulihkan ekonomi, menghidupkan pesantren tapi COVID-nya tidak disembuhkan.”
Sebelumnya, Menteri Agama (Menag) Fachrul Razi sempat menyebut sudah ada tiga pondok pesantren yang menjadi klaster penularan COVID-19. Ia mengklaim jika jumlah pesantren yang menjadi klaster itu masih sedikit dibandingkan total yang ada di Indonesia.
Namun, pernyataan Fachrul langsung dibantah keras oleh Ketua Lembaga Pendidikan (LP) Ma'arif Pengurus Besar Nahdlatul Ulama PBNU Arifin Junaidi. Ia membeberkan jika penyebaran virus corona di pondok pesantren Indonesia jauh lebih banyak ketimbang yang diumumkan pemerintah.
”Data Rabithahtul Ma'ahidil Islamiyah, lembaga yang membawahi pesantren NU, ada lebih dari 50 pesantren yang terpapar,” papar Arifin. “Tapi pemerintah menyatakan jumlah yang jauh lebih kecil.”
(wk/lian)