Edwin Marpaung tercatat menjadi dokter ke-100 yang meninggal karena COVID-19. Dokter spesialis tulang di Medan, Sumatera Utara, tersebut dikenal sebagai pribadi yang ramah dan sangat dekat dengan pasien.
- Bertilia Puteri
- Rabu, 02 September 2020 - 20:51 WIB
WowKeren - Per Minggu (31/8), pandemi virus corona (COVID-19) telah membuat 100 orang dokter di Indonesia kehilangan nyawanya. Edwin Marpaung pun tercatat menjadi dokter ke-100 yang meninggal karena COVID-19.
Dokter spesialis tulang di Medan, Sumatera Utara, tersebut dikenal sebagai pribadi yang ramah dan sangat dekat dengan pasien. Ia bahkan mendapat julukan "The Smiling Doctor" (dokter yang murah senyum) dari teman-temannya.
Salah seorang pasien dokter Edwin yang sempat nyaris tak tertolong lantas menceritakan pengalamannya. Pasien bernama Saida Sulastri Situmorang tersebut adalah seorang PNS di Dinas Pariwisata Kabupaten Hubang Hasandutan yang mengalami kecelakaan motor pada tahun 2011 silam.
Kecelakaan tersebut membuat Saida mengalami luka fatal. Di antaranya adalah fraktur pada tiga bagian di klavikula (tulang penghubung lengan dan tubuh), keretakan pada rahang, tulang hidung patah dan ada pendarahan di otak. Gangguan syaraf pun saat itu sempat merusak ingatan Saida, ia bisa melupakan apa yang baru saja dikatakannya semenit yang lalu.
Edwin lantas menjadi dokter yang menangani operasi Saida. Ingatan Saida pelan-pelan sempurna setelah operasi dan ia bisa mengingat pertemuan-pertemuannya dengan dokter Edwin.
Hal yang diingat Saida secara pasti, bahkan setelah sembilan tahun berlalu, adalah dokter Edwin yang ramah dan selalu tersenyum. Saida mengungkapkan pengalamannya menjadi pasien dokter Edwin sambil terisak.
"Kalau ingat dokternya ngomong … dia lembut sekali," tutur Saida dilansir Tirto. "Kalau mengingat dia menguatkan, menanyakan keluarga, kasih semangat … saya jadi sedih."
Perkataan dokter Edwin di pertemuan terakhir mereka pada 2014 silam dikenang oleh Saida hingga sekarang. Kala itu, dokter Edwin berpesan agar Saida selalu berdoa bersama suami dan anaknya sebelum berangkat bekerja.
"Dia bilang, ‘Kita jangan ketemu di rumah sakit lagi, ya, bu. Pokoknya kita harus ketemu saat ada acara suka cita'," kenang Saida. "Dokter menyalami saya saat keluar ruangan sambil tersenyum."
Saida pun menangis saat mendengar kabar kematian dokter Edwin pada 30 Agustus 2020 lalu. "Kalau dokter Edwin umurnya panjang, masih banyak orang yang bisa diselamatkan seperti saya," ujar Saida.
Hal senada diungkapkan oleh sahabat seangkatan dokter Edwin, Bram Kilapong. Menurut Bram, dokter Edwin adalah orang yang baik hati dan ramah.
"Kalau zaman dulu, kita mengenal Presiden Soeharto sebagai 'The Smiling General'. Kita mengenal Edwin sebagai 'The smiling Doctor'," kata Bram. "Dia selalu tersenyum meski dalam keadaan sulit."
Tak hanya itu, dokter Edwin yang menempuh pendidikan di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FK UI) pada 1992 hingga 1998 itu juga dikenal sebagai mahasiswa yang cerdas. Menurut Bram, dokter Edwin adalah putra terbaik Sumatera Utara yang masuk FK UI melalui jalur prestasi.
Dari antara sekitar 160 teman satu angkatan mereka, dokter Edwin masuk dalam 10 mahasiswa paling cemerlang. "Selama pendidikan dokter, kami selalu bersama-sama selama enam tahun, bahkan di dalam kelompok kecil pun kami selalu bersama," ungkap Bram,
(wk/Bert)