Anggota DPRD DKI Jakarta fraksi PDIP Gilbert Simanjuntak mengingatkan Anies jika keberadaan para tenaga kesehatan sangat penting untuk membantu mengatasi pandemi.
- Zodiak Yanuarita
- Jumat, 04 September 2020 - 11:22 WIB
WowKeren - Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan berencana untuk mengisolasi seluruh pasien COVID-19 di fasilitas kesehatan yang disediakan. Namun rencana ini dinilai justru akan membuat beban tenaga kesehatan lebih berat.
Hal ini sebagaimana dikemukakan oleh Anggota DPRD DKI Jakarta fraksi PDIP Gilbert Simanjuntak. Ia mengingatkan Anies jika keberadaan para tenaga kesehatan ini sangat penting untuk membantu mengatasi pandemi ini.
"Beban tenaga medis menjadi sangat berat," kata Gilbert dilansir CNN Indonesia, Jumat (4/9). "Kejenuhan dan kelelahan tenaga medis sangat penting, ibarat pasukan yang bertempur selama 6 bulan tanpa henti."
Pada dasarnya, pasien COVID-19 yang tidak memiliki gejala tidak memerlukan perawatan khusus. Mereka bisa menjalankan isolasi mandiri di rumah masing-masing. Jika OTG nekat dimasukkan ke dalam rumah sakit maka akan membuat dokter dan perawat kelelahan.
Jika para tenaga medis ini lelah maka akan berdampak pada imun mereka. Ia pun mengingatkan Anies sudah ada lebih dari 100 dokter yang gugur di tengah pandemi ini.
"Kelelahan membuat kewaspadaan tenaga medis berkurang, saat ini sudah lebih dari 100 orang dokter yang meninggal," ujar Gilbert. "Penting memberikan 1 hari cuti tiap minggu buat mereka yang bertugas."
Sebaliknya, hal yang bisa dilakukan untuk menekan penyebaran virus ini adalah dengan menerapkan wajib bermasker secara ketat. Bahkan ketika berada di alam rumah sekalipun.
"Tindakan terbaik adalah menerapkan wajib bermasker total selama 2 minggu, di dalam rumah dan di luar," paparnya. "Kalau mau lepas masker, jaga jarak 2 meter dari orang sekitar."
Sebelumnya, Anies mengatakan jika kemunculan klaster baru seperti rumah tangga dan perkantoran disebabkan karena masyarakat kurang patuh memakai masker, terutama di hadapan orang yang sudah dikenal. Gilbert pun tidak sepakat akan hal ini.
Menurutnya, kenaikan jumlah kasus karena munculnya klaster baru disebabkan karena adanya pelonggaran PSBB. "Ternyata kenaikan kasus yang bermakna/signifikan sejak PSBB transisi," ujar dia.
(wk/zodi)