Untuk itu Kepala BNPB berencana mengajak sejumlah pakar di bidang sosiologi, antropologi, maupun psikologi untuk ikut membantu terkait perubahan perilaku masyarakat.
- Zodiak Yanuarita
- Jumat, 04 September 2020 - 11:33 WIB
WowKeren - Meski sudah banyak nyawa menjadi korban virus corona, namun banyak dari kalangan masyarakat yang tak kunjung sadar bahaya virus ini. Seperti di Jakarta misalnya.
Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Doni Monardo, mengatakan masih banyak warga Jakarta yang percaya diri tidak akan tertular virus corona. Selain Jakarta, pola masyarakat seperti ini juga terdapat di Jatim.
"Data yang sempat kami kumpulkan beberapa bulan lalu terhadap 5 provinsi adalah masih ada masyarakat yang menganggap dirinya itu tidak mungkin kena Covid," kata Doni dalam Rapat Kerja dengan Komisi VIII DPR RI, Kamis (3/9). "Tertinggi ternyata di DKI Jakarta. Kedua di Jatim."
Kendati demikian, ia tidak memberikan rincian berapa persen orang yang tidak percaya dirinya bisa tertular COVID-19. Melanjutkan, ia menilai berdasarkan data yang dikumpulkan oleh BNPB, ketidakpercayaan masyarakat terhadap bahaya COVID-19 masih berkaitan erat dengan tingginya jumlah kasus di Jatim.
Untuk itu ia berencana mengajak sejumlah pakar di bidang sosiologi, antropologi, maupun psikologi untuk ikut membantu mengenai perubahan perilaku masyarakat. Masyarakat diharapkan bisa tahu betul bahaya virus ini.
"Kami akan melibatkan pakar di bidang sosiolog, antropolog, dan psikolog," ujarnya menambahkan. "Karena di daerah tertentu masih ada yang tidak percaya tentang COVID-19."
Sebab tak sedikit masyarakat yang menganggap jika COVID-19 tak lebih dari sekadar konspirasi. Sehingga hal ini membuat penerapan protokol kesehatan menjadi lebih sulit.
"(Warga) masih menganggap COVID-19 rekayasa, masih anggap COVID-19 ini konspirasi," kata Doni. "Kami akan upayakan tim gabungan bisa sasar daerah-daerah tersebut."
Beberapa waktu lalu psikolog Annelia Sani Sari sempat membeberkan penjelasan mengenai mereka yang berpikir COVID-19 tak lebih dari sekadar konspirasi. Menurutnya, sikap denial atau penyangkalan disebabkan oleh rasa tidak peduli. Bagi kaum semacam ini, meskipun informasi valid mengenai bahaya virus corona tersedia secara luas, namun sikap tidak peduli mereka membuat mereka tidak terinformasi dengan baik.
(wk/zodi)