Baru-baru ini terungkap mutasi virus Corona D614G ternyata sudah ada di Indonesia. Para peneliti pun meyakinkan temuan ini tak mengurangi efektivitas vaksin.
- Elvariza Opita
- Jumat, 04 September 2020 - 13:08 WIB
WowKeren - Vaksin COVID-19 terus dikembangkan oleh berbagai lembaga terkait demi segera mengakhiri pandemi. Namun kekinian masyarakat kembali merasa skeptis atas pengembangan vaksin karena ditemukannya banyak mutasi virus Corona, seperti salah satunya menyebabkan wabah menjadi 10 kali lebih menular.
Namun demikian, Kepala Lembaga Biologi Molekuler Eijkman Jakarta, Amin Soebandrio, menegaskan bahwa mutasi ini bukan sesuatu yang perlu dikhawatirkan dalam aspek pengembangan vaksin. Sebab mutasi yang terjadi pada virus tak mengubah struktur maupun fungsi dari receptor-binding domain (RBD) atau domain pengikat reseptor yang bertugas menjangkiti bagian protein manusia.
"Meskipun perubahan terjadi pada spike protein, namun pada lokasi yang berbeda sehingga RBD tidak terganggu," kata Amin dalam siaran pers Kementerian Riset dan Teknologi, Kamis (3/9). Sebab kinerja vaksin tak akan terganggu selama yang diserang merupakan RBD alias bagian dari spike virus tak berubah dalam mutasi tersebut.
Pada kesempatan itu, Amin buka-bukaan soal temuan mutasi D614G yang menyebabkan COVID-19 menjadi 10 kali lipat lebih menular. Menurutnya mutasi ini ditemukan di sejumlah kota besar.
"Rinciannya dua dari Surabaya, tiga dari Yogyakarta," terang Amin, seperti dilansir dari Kompas TV, Jumat (4/9). "Dua dari Tangerang dan Jakarta, dan dua dari Bandung."
Hasil ini didapat dari 24 sampel genom virus Corona yang dikirimkan kepada Bank Dunia Influenza Dunia (GISAID). GISAID mendapati sebanyak 9 dari 24 sampel itu ternyata mengandung mutasi D614G yang rupanya sudah "berkeliaran" di Indonesia sejak Maret 2020.
Selain itu, ilmuwan Universitas Airlangga juga mengklaim menemukan mutasi langka di Kota Surabaya, Jawa Timur. Pakar Biomolekular Unair, Prof Ni Nyoman Tri Puspaningsih menyebut mutasi tipe Q677H yang jarang ditemui rupanya malah ada di Surabaya dan sedang menjadi fokus penelitian pihaknya.
"Sedang kami teliti apakah ada pengaruh dari mutasi ini, apa yang terjadi, apakah benar atau gimana," kata Nyoman, Jumat (28/8). "Kenapa kita tertarik dengan Q677H di Surabaya. Karena hanya terjadi di Surabaya dari analisis data kami. Mungkin kita bisa lihat mutasi ini di kota lain atau area lain. Mutasi ini terjadi 99 kali di dunia."
(wk/elva)