Positivity Rate Corona di RI Tembus 16 Persen, KawalCOVID-19 Beber 2 'Makna Buruk' di Baliknya
Nasional

WHO menetapkan standar positivity rate COVID-19 di bawah 5 persen. Namun positivity rate COVID-19 di Indonesia saat ini mencapai 16,17 persen dan menunjukkan makna seperti ini.

WowKeren - Tingkat kepositifan alias positivity rate COVID-19 di Indonesia memang begitu tinggi. Bahkan mencapai 16 persen, jauh melampaui standar Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Jelas ini merupakan krisis yang sangat mengkhawatirkan, seperti diungkap oleh Pendiri KawalCOVID-19, Ainun Najib. Dan menurut analisisnya, positivity rate Indonesia yang mencapai belasan persen itu juga menunjukkan 2 hal lain. Apakah itu?

Yang pertama adalah perihal tingkat penyebaran wabah COVID-19 di Tanah Air. Sedangkan yang kedua, tingkat kepositifan yang sampai belasan persen itu menunjukkan bahwa kapasitas tes Indonesia belum mampu mengimbangi kecepatan penyebaran wabah.

"Ini mengkhawatirkan. Naiknya positive rate menunjukkan dua hal, yaitu wabah COVID-19 terus menyebar di masyarakat," jelas Ainun dalam sebuah diskusi, Jumat (4/9). "Dan kapasitas tes kita belum bisa menyamai kecepatan peningkatan penyebaran wabah."

Satuan Tugas Penanganan COVID-19 mencatat ada peningkatan positivity rate selama bulan Agustus 2020. Padahal data tingkat kepositifan wabah tersebut fluktuatif alias naik-turun pada bulan Juni dan Juli 2020.


Dijelaskan lebih lanjut, Satgas COVID-19 menyebut angka positivity rate selama bulan Agustus mencapai 15,43 persen. Padahal saat ini WHO menetapkan standar global untuk positivity rate COVID-19 adalah di bawah 5 persen.

"Secara keseluruhan positivity rate di Indonesia rata-ratanya 16,17 persen," jelas Anggota Tim Pakar Satgas COVID-19, Dewi Nur Aisyah, di Graha BNPB Jakarta, Rabu (2/9). "Target kita sampai standar WHO, (yakni) kurang dari 5 persen."

Sebagai informasi, positivity rate menunjukkan persentase kasus positif dibanding jumlah tes deteksi Corona yang diselenggarakan. Itu pun, imbuh Dewi, baru didasarkan pada pasien-pasien yang secara aktif datang ke rumah sakit untuk memeriksakan diri.

Hal itulah yang disoroti pula oleh Ainun Najib dari KawalCOVID-19. Sepanjang Agustus kemarin, sambung Ainun, "hanya" 430.645 orang yang memeriksakan diri terkait COVID-19.

Sehingga masih besar kemungkinan ada banyak pasien positif COVID-19 yang belum teridentifikasi karena tidak memeriksakan diri. "Harusnya rate ini bisa dijaga stabil pada angka serendah mungkin," tegas Ainun, dikutip dari siaran persnya.

(wk/elva)

Follow Berita WowKeren.com di Google News

You can share this post!

Berita Terkait