Peneliti Australia Nilai Jokowi Penuh Kontradiksi dan Bagai Wali Kota di Istana Presiden
Nasional

Direktur Program Asia Tenggara di lembaga Lowy Institute, Ben Bland, menilai Jokowi bisa menangkap imajinasi bangsa Indonesia tentang sosok pemimpin yang diidam-idamkan, namun juga penuh kontradiksi.

WowKeren - Peneliti Australia menyoroti sosok Presiden Joko Widodo yang dinilai penuh kontradiksi dalam sepak terjangnya memimpin Indonesia. Hal ini disampaikan oleh Direktur Program Asia Tenggara di lembaga Lowy Institute, Ben Bland.

Dalam buku terbaru Bland yang bertajuk "Man of Contradictions - Joko Widodo and the Struggle to Remake Indonesia", dijelaskan bagaimana Jokowi yang sedianya merupakan "seorang pembuat mebel" bisa menangkap imajinasi bangsa Indonesia tentang sosok pemimpin yang diidam-idamkan namun juga penuh kontradiksi. "Kontradiksi tidak sepenuhnya konsep yang negatif, tapi menyiratkan Jokowi sedang bertarung untuk mendamaikan banyak persoalan," tutur Bland dilansir ABC Indonesia pada Jumat (4/9).

Menurut Bland, Jokowi sebagai pemimpin telah berhasil mencatatkan sejumlah pencapaian, kebanyakan di bidang infrastruktur dan kebijakan lain yang terfokus pada ekonomi. Bland juga mengakui bahwa Jokowi adalah sosok pemimpin yang populer, terbukti dari sang Presiden yang kembali terpilih di periode keduanya.

""Pertanyaan saya adalah bagaimana ia memanfaatkan itu?" tutur Bland. "Ia terus mengatakan ingin mendorong Indonesia melewati reformasi, tapi sejauh ini ia sangat berhati-hati."

Dalam buku Bland, janji-janji Jokowi disebut semakin pudar seiring dengan makin lamanya sang Presiden menjabat di Istana. Begitu memasuki periode keduanya, Jokowi dinilai telah berubah menjadi elit yang membangun dinasti politiknya sendiri.


"Sosok yang pernah dipuja karena reputasinya yang bersih, malah telah memperlemah lembaga pemberantasan korupsi, memicu aksi demonstrasi mahasiswa dan pelajar," tulis Bland. "Kelemahan kepemimpinannya terungkap oleh krisis COVID-19. Pemerintahannya menunjukkan jejak-jejak buruk: tidak menghargai pendapat pakar kesehatan, tidak mempercayai gerakan masyarakat sipil, dan gagal membangun strategi terpadu."

Lebih lanjut, Bland juga menilai strategi politik Jokowi sangat sederahana, yaitu dengan mendengarkan apa yang dikehendaki rakyat dan mencoba mewujudkannya. Strategi tersebut sebelumnya terlihat efektif diterapkan saat Jokowi masih menjabat sebagai Wali Kota Solo.

"Tapi ketika memerintah sebuah negara berpenduduk begitu banyak, ribuan pulau, beragam agama dan suku, serta 550 walikota dan gubernur terpilih, jadi 550 Jokowi lainnya yang ingin menjalankan kepemimpinannya masing-masing, maka politik menjadi semakin kompleks," ungkap Bland. "Selama enam tahun berada di istana, dia belum bisa beranjak ke level strategis. Dia lebih sebagai seorang Wali Kota di Istana Presiden."

Meski demikian, Bland menyatakan masih ada harapan untuk melihat kepemimpinan Jokowi berlanjut hingga 2024 mendatang. Dalam bukunya, Bland juga membahas sejumlah kontradiksi bukan sekedar pada sosok dan kepemimpinan seseorang, tapi mencakup hal yang lebih luas.

"Tapi kita perlu mengakui adanya kekecewaan terhadap Jokowi dari para pendukungnya sendiri," pungkas Bland. "Ini menunjukkan Indonesia sebagai sebuah negara yang besar, kompleks, dan terus menghadapi banyak tantangan."

(wk/Bert)

Follow Berita WowKeren.com di Google News

You can share this post!

Berita Terkait