Calon Wakil Wali Kota Tangerang Selatan (Tangsel), Rahayu Saraswati Djojohadikusumo menanggapi cuitan 'paha mulus' yang diunggah oleh Politisi Partai Demokrat, Cipta Panca Laksana.
- Nidya Putri
- Selasa, 08 September 2020 - 09:36 WIB
WowKeren - Politisi Partai Demokrat, Cipta Panca Laksana, baru-baru ini menjadi perbincangan massa usai membuat cuitan soal "Paha calon Wakil Wali Kota Tangsel itu mulus banget" di akun Twitternya yang kemudian dibalas oleh mantan Sekretaris Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Said Didu. Diketahui, cuitan tersebut ditujukan kepada keponakan Prabowo Subianto, Rahayu Saraswati Djojohadikusumo.
Menanggapi cuitan tersebut, Sara pun buka suara melalui akun Twitter dan Facebook-nya. Dalam unggahannya tersebut, Sara mengungkapkan langsung menghubungi salah satu dari dua orang tersebut.
"Langkah pertama yang saya lakukan adalah menghubungi salah satu dari mereka, yang saya kenal secara pribadi," ungkap Sara. "Niat hanya ingin memastikan. Pertama, apakah betul itu akun pribadi beliau dan kedua maksud dari cuitannya."
"Tidak lama kemudian saya dapat jawaban bahwa, ya, betul itu milik beliau dan bahwa beliau tidak mengetahui siapa yang dimaksud dan kalau cuitannya hanya bercandaan saja," imbuhnya.
Sara mengaku kecewa ada tokoh politik yang mengobjektifikasi perempuan. Apalagi hal ini sering terjadi terhadap perempuan.
"Pernyataannya menghentak saya karena reaksi saya yang menganggap cuitan di Twitter itu sebagai hal sepele dan biasa-biasa saja adalah contoh nyata," kata Sara, Senin (7/9). "Bagaimana kita telah terprogram untuk menerima objektifikasi dan pelecehan seksual verbal sebagai hal biasa dan bahkan sebagai pujian."
Lebih lanjut, Sara mengaku sempat didesak untuk melaporkan hal ini ke pihak berwajib. Namun, dia masih mempertimbangkannya karena kegiatannya yang mulai padat karena Pilwalkot Tangsel.
Ia juga menyayangkan munculnya foto-foto dirinya yang kemudian dipakai sebagai serangan politik. Ia berjanji mencari keluar terkait masalah ini, apalagi dalam kasus ini perempuan kerap disalahkan karena caranya berpakaian yang dinilai mengundang tindak pelecehan tersebut.
"Bagaimana dengan kasus-kasus kekerasan di mana perempuan menggunakan baju yang sangat sopan tetapi tetap mengalami kekerasan tersebut?" tuturnya. "Bagaimana dengan para TKI kita yang mengalami kekerasan tersebut padahal pasti berpakaian sopan selama bekerja di rumah orang lain, bahkan seringkali mengenakan seragam yang disiapkan? Bagaimana dengan anak-anak usia balita, 10 tahun, 15 tahun, yang mengalami kekerasan? Apakah pakaian yang mereka kenakan salah?"
Sara juga menyebutkan jika siapa saja boleh punya pendapat tentang bagaimana seharusnya seseorang berpakaian saat berolah raga, itu adalah hak. Tapi juga menjadi hak bagi orang lain untuk berpakaian sesuai kehendaknya.
"Saya percaya bahwa semua orang (laki-laki maupun perempuan) punya hak untuk berpakaian sesuai dengan kehendaknya masing-masing tanpa mengalami pelecehan, diskriminasi, nyinyiran, dan lain-lain," pungkasnya.
(wk/nidy)