Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah, Yulianto Prabowo, mengatakan jika gejala Hapyy Hypoxia pada pasien COVID-19 telah terjadi merata di semua rumah sakit Jateng.
- Nidya Putri
- Selasa, 08 September 2020 - 10:10 WIB
WowKeren - Happy Hypoxia pada pasien COVID-19 tengah menjadi sorotan beberapa waktu terakhir. Di Jawa Tengah sendiri banyak ditemukan pasien COVID-19 yang mengalami gejala tersebut di berbagai rumah sakit.
Gejala atau kasus Happy Hypoxia cukup berbahaya dan bisa berakibat fatal. Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah, Yulianto Prabowo, mengatakan Happy Hypoxia merupakan fenomena di dunia termasuk di Jawa Tengah setelah sebelumnya muncul kasus serupa pada warga Banyumas.
"Happy Hypoxia itu fenomena di mana-mana, di dunia termasuk Indonesia. Di Jawa tengah juga ada," kata Yulianto di kantor Gubernur Jateng, Jalan Pahlawan Semarang, Senin (7/9). "Yang laporan ke kami itu Banyumas dan Solo dan daerah lain. Pada prinsipnya rumah sakit yang merawat (pasien COVID), itu ada. Jadi ada yang ringan, ada yang selamat tapi ada juga yang tidak."
Pasien yang mengalami Happy Hypoxia, tidak mengalami sesak napas bahkan terlihat sehat padahal saturasi oksigen di tubuhnya di bawah 90 persen. Padahal pada umumnya sesak napas akan dialami. Hal ituah yang berbahaya karena bisa tiba-tiba kondisinya fatal.
"Jadi ketahuannya setelah diukur saturasi oksigennya, kalau orang biasa kalau saturasi di bawah 90 sudah sesek dan butuh ventilator, tapi mereka ini walau saturasi di bawah 90 terlihat kuat dan tidak sesek," jelasnya.
Maka kepada orang yang terpapar COVID-19 bisa dilakukan ronsen dan jika terlihat tanda pneumonia meski terlihat sehat maka harus dilakukan pengawasan rutin. "Kalau sudah foto ronsen ada gambaran pnemonia maka dilakukan pengawsan rutin," tandasnya.
Untuk pencegahan di masyarakat, Yulianto mengatakan tetap sama dengan pencegahan COVID-19 pada umumnya yaitu menjalankan protokol kesehatan. "Ya, dengan menjalankan protokol kesehatan," tegasnya.
Sebelumnya, muncul kekhawitar terkait penggunaan masker yang menyebabkan pasien COVID-19 semakin kesulitan bernapas. Hingga mengalami gejala Happy Hypoxia alias komplikasi gejala klinis ketika saturasi oksigen dalam darah pasien COVID-19 menurun drastis hingga berpotensi menyebabkan kematian.
Beruntung, kekhawatiran tersebut telah dijawab oleh dokter spesialis paru-paru RS Persahabatan, dr Andika Chandra Putra, Sp.P, PhD. "Tentu ada penurunan (kadar) oksigen, tapi itu masih bisa ditoleransi," jelas Andika melalui sambungan telepon pada Kamis (3/9) lalu.
(wk/nidy)