Inisiator platform edukasi COVID- 19 @pandemictalks, Firdza Radiany, mengungkapkan bahwa berdasarkan survei Dinas Kesehatan Kota Bogor, hanya 15 persen warga yang percaya virus corona benar-benar ada.
- Bertilia Puteri
- Selasa, 08 September 2020 - 10:07 WIB
WowKeren - Pandemi virus corona (COVID-19) telah genap enam bulan berlangsung di Indonesia sejak pertama kali masuk pada 2 Maret 2020 lalu. Namun demikian, hingga kini rupanya masih ada warga yang tidak mempercayai bahwa virus corona benar-benar ada.
Hal ini disampaikan oleh inisiator platform edukasi COVID- 19 @pandemictalks, Firdza Radiany. Sebagai contoh, Firdza mengungkapkan bahwa masih banyak warga Kota Bogor, Jawa Barat, yang menganggap COVID-19 sebagai hoaks.
Firdza mengungkapkan bahwa berdasarkan survei Dinas Kesehatan Kota Bogor, hanya 15 persen warga yang percaya COVID-19 benar-benar ada. "Ini agak mengkhawatirkan, survei Dinkes Kota Bogor menyebutkan hanya 15 persen warga Bogor yang percaya COVID-19 itu ada. Selebihnya itu ragu-ragu dan tidak percaya," ungkap Firdza dalam diskusi yang digelar Satuan Tugas (Satgas) Penanganan COVID-19 pada Senin (7/9).
Menurut Firdza, hal ini membuat penyebaran corona di Kota Bogor kian masif setiap harinya. Adapun penularan corona di Kota Bogor, tutur Firdza, mayoritas berasal dari klaster keluarga, yakni mencapai 48 klaster.
"Jadi penyebab utama total kasus di Bogor ini 34,7 persen dari klaster keluarga ternyata," terang Firdza. "Dianalisa oleh tim Bogor ternyata ini aktivitas keluar masuk Kota Bogor. Mostly (mayoritas) yang terdampak adalah lansia dan anak-anak."
Oleh sebab itu, Firdza menyatakan bahwa para orangtua dan anak-anak sebaiknya tetap berada di rumah. Setiap rumah juga disebut Firdza harus memperhatikan prinsip ventilasi- durasi-jarak untuk mencegah penularan corona.
"Ventilasi di rumah itu harus lancar sirkulasi udaranya, udaranya bisa dibuka, jendela bisa dibuka. Durasi, sediakan kamar terpisah jika ada anggota keluarga yang harus bekerja di luar rumah, kurangi interaksinya dengan anggota yang rentan. Misal di rumah ada kamar lebih dari satu, si bapak dan ibu yang bekerja di luar ini harus diisolasi, dalam ruang terpisah," pungkas Firdza. "Jarak, jika ada yang bekerja di luar, diharapkan dimungkinkan menjaga social distancing menggunakan masker bahkan di dalam rumah."
Diketahui, Kota Bogor kini berstatus sebagai zona merah atau daerah berisiko tinggi penularan COVID-19. Jumlah kasus positif COVID-19 di Kota Bogor kini mencapai 756 pasien, dengan 459 orang dinyatakan sembuh dan 33 dilaporkan meninggal dunia.
(wk/Bert)