Upaya Pemkot Bekasi Atasi Penyebaran Klaster Keluarga yang Mengkhawatirkan
Nasional

Klaster keluarga telah menjadi penyumbang terbesar kasus COVID-19 di Kota Bekasi. Pemkot Bekasi pun melakukan berbagai upaya demi mencegah penyebaran virus lebih lanjut.

WowKeren - Sejumlah klaster baru COVID-19 bermunculan di Indonesia. Salah satunya adalah klaster keluarga yang patut diwaspadai.

Klaster keluarga sendiri menjadi penyumbang terbesar kasus COVID-19 di Kota Bekasi. Hingga 6 September, ada 1.072 kasus COVID-19 di Kota Bekasi dimana 196 keluarga dinyatakan positif terpapar virus corona.

Klaster keluarga sendiri menyebabkan penularan COVID-19 dari satu rumah ke rumah lainnya yang ada di dalam lingkungan tersebut. Demi mengatasi hal ini, Pemkot Bekasi melakukan pelacakan kasus klaster keluarga di RW-RW sekitaran zona merah.

Dengan adanya pelacakan ini diharapkan dapat menekan angka klaster keluarga di wilayahnya. “Nah Dinkes sedang tracking, Dinkes juga melacak yang di RW-RW sekarang kasusnya (COVID-19) tinggi,” ujar Wali Kota Bekasi Rahmat Effendi.

Rahmat juga mempersilahkan pasien COVID-19 untuk isolasi mandiri di Stadion Patriot apabila di rumahnya tak memungkinkan. “Iya kalau rumahnya yang memang tidak memungkinkan bawa ke sini (Stadion Patriot) saja. Misalnya rumahnya cuma 40 meter dan keluarganya ada 6 atau 10 orang jadi kita bawa saja,” paparnya.

Kadinkes Kota Bekasi Tanti Rohilawati mengatakan bahwa pihak Pemkot juga melakukan evaluasi penambahan klaster keluarga yang terjadi belakangan ini. Menurutnya, ada dua penyebab penambahan kasus klaster keluarga di wilayahnya.


Pertama, berasal dari pasien COVID-19 yang isolasi mandiri tidak sesuai prosedur. Kemudian, pasien atau keluarga pasien yang isolasi mandiri tidak mengenakan masker di rumah sehingga satu keluarga tertular.

Sekedar informasi, di Kota Bekasi, saat ini memiliki jumlah pasien COVID-19 yang isolasi mandiri lebih banyak dibanding yang dirawat di rumah sakit. Menurut data 6 September ini ada 254 pasien COVID-19 yang 207 pasien menjalani isolasi mandiri dan 47 dirawat di RS.

“Kita menganalisa sampai saat ini kenapa terus terjadi peningkatan, apakah pasien-pasien OTG (orang tanpa gejala) ini yang diisolasi mandiri sudah mengikuti prosedur dengan baik atau tidak sehingga terjadi penyebaran family," ujar Tanti. "Mungkin ini harus kita cari, apakah karena isolasi tidak sesuai prosedur."

Lebih lanjut, Tanti menyebutkan jika isolasi mandiri tidak efektif dilakukan jika ada anggota keluarga dalam satu rumah pasien COVID-19 tersebut tak menaati protokol kesehatan. Karena virus tersebut menular dengan sangat cepat melalui udara atau airborne.

Selain itu, muncul dugaan penyebab lainnya adalah kurangnya ventilasi di dalam rumah. COVID-19 sendiri dinilai sangat cepat menyebar di ruangan tertutup.

Apalagi jika di dalamnya, anggota keluarga tersebut tak terapkan protokol kesehatan. “Ventilasi itu harus, sekarang itu penyebaran lewat airborne. Jangan sampai kita di dalam ruangan tiga jam yang tertutup,” katanya.

(wk/nidy)

Follow Berita WowKeren.com di Google News

You can share this post!

Berita Terkait