Satgas COVID-19 mengungkap lebih dari 2 ribu pasien aktif masih dirawat di Kota Semarang, yang membuatnya menjadi 'ranking 1' di Indonesia. Dinkes Kota Semarang pun memberi klarifikasi.
- Elvariza Opita
- Kamis, 10 September 2020 - 13:29 WIB
WowKeren - Satuan Tugas Penanganan COVID-19 menyebut Kota Semarang sebagai wilayah dengan jumlah kasus aktif COVID-19 terbanyak se-Indonesia. "Kota Semarang 2.591 kasus," tutur Juru Bicara Satgas COVID-19, Prof Wiku Adisasmito, Selasa (8/9).
Satgas sendiri mendasarkan datanya pada perkembangan wabah COVID-19 sampai Minggu (6/9) kemarin. Namun belakangan klaim Satgas ini dibantah oleh Dinas Kesehatan Kota Semarang, seperti penjelasan berikut.
Lewat akun Instagram-nya, @dkksemarang, Dinkes Kota Semarang mengunggah infografis perkembangan kasus COVID-19 sampai Sabtu (5/9). Kesimpulannya, Dinkes Kota Semarang rupanya hanya mencatat 474 kasus aktif COVID-19, sebagaimana terpantau secara realtime di siagacorona.semarangkota.go.id.
Sedangkan berdasarkan data yang dirilis oleh Satgas pusat, ternyata ada 2.669 kasus yang diklaim masih aktif. Selisih data yang luar biasa besar ini pun langsung diverifikasi ulang oleh Dinkes Kota Semarang, dan beginilah hasilnya.
Rupanya terdapat sekitar 927 data pasien di Kota Semarang yang sebenarnya sudah nonaktif, baik karena sembuh maupun meninggal dunia. Namun ratusan data pasien ini masih dikategorikan aktif oleh Satgas COVID-19 pusat.
Selain itu terdapat pula 1.467 kasus positif COVID-19 yang menurut pengakuan Dinkes Kota Semarang tidak ditemukan. "Hingga saat ini data sedang dalam proses pencocokan," ujar Dinkes Kota Semarang dalm infografisnya, dilansir pada Kamis (10/9).
Klarifikasi dari Dinkes Kota Semarang ini pun menambah panjang daftar perselisihan data pasien COVID-19 di Indonesia. Sebelumnya Pemerintah Kota Surabaya dan Pemerintah Provinsi Jawa Timur juga sempat berselisih paham perihal data pasien COVID-19 ini.
Tak hanya pasien-pasien aktifnya, pendataan kasus meninggal akibat COVID-19 oleh pemerintah pusat pun kerap menjadi sorotan. Seperti baru-baru ini Anggota DPR RI dari PDI Perjuangan yang mempertanyakan selisih besar antara data kematian dokter akibat COVID-19 sesuai pencatatan Ikatan Dokter Indonesia (IDI) dan Kementerian Kesehatan.
Diketahui IDI melaporkan sudah lebih dari 100 dokter yang meninggal dunia karena terinfeksi COVID-19. Namun rupanya Kemenkes hanya mencatat sebanyak 30 orang, sebuah angka yang luar biasa jauh selisihnya.
(wk/elva)