Tanggapi Dugaan Pemalsuan Rapid Test dan Pelecehan Seksual, Kimia Farma Tempuh Jalur Hukum
Nasional
COVID-19 di Indonesia

Direktur Utama PT Kimia Farma Diagnostika Adil Fadillah menegaskan akan membawa kasus ini ke jalur hukum. Pihak perusahaan juga telah menghubungi korban

WowKeren - PT Kimia Farma Diagnostika ikut buka suara menanggapi cuitan soal dugaan pemalsuan rapid test dan pelecehan seksual di Bandara Soekarno Hatta. Seperti diberitakan sebelumnya, seorang wanita berinisial LHI mengaku mengalami pemerasan dan pelecehan seksual saat pemeriksaan rapid test di Bandara Soekarno-Hatta.

Dirut PT Kimia Farma Diagnostika Adil Fadillah menegaskan akan membawa kasus ini ke jalur hukum. Pihak perusahaan juga telah menghubungi korban dan menjamin akan memproses hukum tenaga medis itu.

"PT Kimia Farma Diagnostika akan membawa kasus ini ke ranah hukum," kata Adil seperti dilansir dari Kumparan, Senin (21/9). "Atas tindakan oknum tersebut yang diduga melakukan pemalsuan hasil rapid test, pemalsuan, intimidasi, dan asusila."

Masih dilansir dari Kumparan, oknum yang memalsukan hasil rapid test dan diduga melakukan pelecehan seksual tersebut adalah tenaga medis yang merupakan petugas test dari Kimia Farma. Ulah oknum ini ramai menuai kecaman di media sosial.


Sementara itu, pengamat penerbangan Alvin Lie meminta agar aturan syarat rapid test untuk bepergian diperbarui jika memang masih diwajibkan. Sebab, aturan terkait rapid test ini dikeluarkan oleh Gugus Tugas yang mana sekarang namanya sudah berubah dan hanya berbentuk Surat Edaran (SE).

"Surat edaran itu juga bukan peraturan perundang-undangan, apakah masih tepat syarat rapid test ini berdasarkan SE tersebut?" terangnya. "Kalau memang masih dipersyaratkan sebaiknya diperbarui dengan aturan yang lebih jelas, bukan sekadar surat edaran yang bukan produk perundang-undangan."

Sebelumnya, LHI menceritakan pengalamannya terkait dugaan pemerasan dan pelecehan seksual melalui sebuah utas di linimasa Twitter. Peristiwa itu terjadi pada Minggu (13/9) saat dirinya hendak melakukan rapid test di Bandara Soetta.

Yakin hasil tes akan nonreaktif, LHI pun kaget ketika menerima hasil yang menyatakan dirinya reaktif. Korban mengaku mengalami pemerasan dengan dalih data rapid test bisa diganti untuk kepentingan penerbangan.

(wk/zodi)

You can share this post!

Related Posts