Indonesia Dipastikan Resesi, Sandiaga: Pemerintah Gagal Selamatkan Ekonomi
Nasional
Potensi Resesi Imbas COVID-19

Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani telah memastikan jika Indonesia akan mengalami resesi. Hal ini dianggap oleh Sandiaga Uno sebagai bukti jika pemerintah telah gagal menyelamatkan ekonomi.

WowKeren - Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani telah memastikan jika Indonesia akan mengalami resesi pada kuartal III 2020. Situasi ini langsung mendapatkan tanggapan dari Politikus Gerindra sekaligus pengusaha nasional Sandiaga Uno.

Sandiaga menilai jika resesi yang akan dialami Indonesia sebagai bukti nyata kegagalan pemerintah dalam menyelamatkan ekonomi di tengah pandemi virus corona. Hal ini terlihat dari nilai daya beli yang juga terus menurun meskipun pemerintah telah mengeluarkan berbagai kebijakan untuk menyelamatkan ekonomi masyarakat.

"Jika dilihat dari aspek kebijakan pemerintah untuk menyelamatkan ekonomi nasional, khususnya UMKM, nampaknya jauh dari harapan," ujar Sandi dalam keterangannya seperti dilansir dari Kumparan, Selasa (22/9). "Tim ekonomi pemerintah telah gagal membangun rumusan kebijakan stimulus fiskal untuk menyelamatkan UMKM dan ekonomi, faktanya daya beli terus menurun."

Sandi juga turut menyoroti salah satu kebijakan pemerintah terkait fiskal untuk sektor UMKM. Menurutnya, anggaran dari kebijakan tersebut masih belum terserap secara maksimal. Realisasi anggaran pemulihan ekonomi nasional untuk UMKM tercatat baru mencapai Rp 58,74 triliun atau 47,5 persen dari pagu anggaran Rp 123,46 triliun per 16 September 2020.


Walau begitu, Sandi tetap menyimpan harapannya agar bantuan presiden (banpres) untuk pelaku UMKM bisa kembali mendorong sektor usaha tersebut kembali bangkit. Ia menjelaskan jika banyak pelaku UMKM yang masih menerapkan mode bertahan demi menyelamatkan bisnisnya di tengah pandemi COVID-19.

Mode bertahan tersebut banyak digunakan lantaran situasi krisis pandemi masih belum diketahui kapan akan berakhir. Ia kemudian memberikan tips agar bisnis dapat terus berjalan dan bertahan di tengah situasi ketidakpastian pandemi.

Mantan Wakil Gubernur DKI Jakarta ini menyebut pentingnya untuk mengutamakan aspek kesehatan dan digitalisasi dalam menjalankan bisnis di tengah penyebaran COVID-19. Digitalisasi bisa dilakukan mulai dari pemesanan, pembayaran, produksi, hingga penyediaan barang.

"Sebab tidak seorang pun tahu kapan krisis ini akan berlalu," ungkap Sandi. "Bahkan, apa yang kita sebut normal di masa pra-pandemi harus mengalami pendefinisian ulang. Zaman sekarang data dan tren bisnis bisa kita dapatkan dengan mudah. Kita tinggal mengamati, meniru, dan memodifikasi tren yang ada sehingga kita memiliki model bisnis baru."

Sebagai informasi, perekonomian Indonesia di kuartal III diperkirakan akan mengalami minus sekitar 2,9 persen. Kondisi ini secara otomatis akan mengantar Indonesia memasuki resesi mengingat pada kuartal II juga telah mengalami kontraksi dengan minus 5,32 persen. Suatu negara dikatakan masuk resesi jika tidak mengalami pertumbuhan ekonomi atau minus dalam dua kuartal berturut-turut.

(wk/lian)

You can share this post!

Related Posts