Eks Kepala Bidang Kesehatan Satgas COVID-19 Ungkap Ada yang Mau Kecilkan Angka Kematian Corona
Nasional
COVID-19 di Indonesia

Adapun pernyataan ini disampaikan mantan Kepala Bidang Kesehatan Satgas COVID-19, Akmal Taher, untuk merespons isu perubahan definisi kematian corona yang sempat muncul beberapa waktu lalu.

WowKeren - Akmal Taher yang baru saja mengundurkan diri dari posisi Kepala Bidang Kesehatan Satuan Tugas (Satgas) Penanganan COVID- 19 mengaku ada pihak yang berupaya mengecilkan angka kasus kematian akibat virus corona. Akmal pun menyebut hal itu berbahaya.

"Jadi memang ada yang berusaha agak mengecilkan jumlah kematian karena COVID-19," tutur Akmal dalam kanal YouTube CISDI TV, dikutip pada Senin (28/9). "Tapi itu kan berbahaya, seakan-akan kita bilang prevalensi seperti itu, menularnya sedikit jadinya."

Adapun pernyataan ini disampaikan Akmal untuk merespons isu perubahan definisi kematian COVID-19 yang sempat muncul beberapa waktu lalu. Diketahui, Staf Ahli Menteri Kesehatan bidang Ekonomi Kesehatan, M. Subuh, sempat menyebut bahwa pasien yang meninggal bisa murni disebabkan oleh COVID-19 atau penyakit komorbid.

Lebih lanjut, Akmal juga menilai bahwa definisi kematian COVID-19 yang digunakan saat ini sudah saling disepakati berdasarkan kajian epidemiologis. "Kita pakai definisi jelas tentang dalam keadaan wabah secara epidemiologis," jelas Akmal.


Oleh sebab itu, Akmal meminta agar definisi kematian COVID-19 tidak menjadi sebuah polemik. Pasalnya, hal tersebut juga dapat berimbas pada hoaks.

Selain itu, Akmal juga merespons kabar yang beredar di masyarakat tentang angka kematian murni akibat COVID-19 di Indonesia hanya sekitar enam persen saja. Publik sempat menilai ada permainan dalam pemerintah dan sistem kesehatan mengenai kematian COVID-19 yang dikaitkan pada bisnis.

Akmal lantas memberikan analogi pasien komplikasi yang memiliki penyakit stroke, jantung, dan diabetes. Akmal menjelaskan saat pasien itu meninggal, maka beberapa orang bisa menyebutnya meninggal karena diabetes.

"Kalau dia karena imune system-nya rendah kemudian kena COVID-19 dan dia lebih cepat meninggal dibandingkan yang lain, ya kita bisa sebutlah itu penyebabnya COVID-19," pungkas Akmal. "Yang tidak boleh adalah dimasukkannya orang COVID OTG (orang tanpa gejala), yang kemudian tabrakan dan meninggal saat mau di bawa ke rumah sakit."

(wk/Bert)

You can share this post!

Related Posts