Sejatinya prinsip Pemkot Yogyakarta dalam mengendalikan COVID-19 hanyalah tracing dan blocking. Namun dijabarkan dalam 7 langkah strategis nan sederhana berikut ini.
- Elvariza Opita
- Sabtu, 03 Oktober 2020 - 15:12 WIB
WowKeren - Beberapa waktu lalu Kota Yogyakarta menghadapi kenaikan kasus positif COVID-19 yang tak bisa dipandang sebelah mata. Pasalnya pusat penyebaran virusnya ada di Malioboro yang merupakan salah satu kawasan wisata paling ramai di provinsi tersebut.
Namun ternyata Pemerintah Kota Yogayakarta sudah memiliki cara jitunya tersendiri untuk bisa mengendalikan wabah. Disampaikan oleh Ketua Harian Gugus Tugas Penanganan COVID-19 Kota Yogyakarta, Heroe Poerwadi, strategi yang mereka terapkan hanyalah tracing dan blocking.
"Misalnya dalam penanganan kasus di Malioboro, sebenarnya prinsip kami untuk penanganan adalah tracing dan blocking," terang Heroe, Jumat (2/10). Dan penjabaran lebih detailnya adalah terbagi dalam 7 langkah, salah satunya terkait pengetatan penerapan QR Code. Bagaimana maksudnya?
Rupanya Pemkot selama ini memastikan pengunjung dibekali dengan QR Code sehingga tercatat nomer ponselnya. "Sebab dari QR Code itu kami akhirnya punya nomer HP semua pengunjung di Malioboro," terang Heroe, dilansir dari Tempo, Sabtu (3/10).
Dengan fasilitas ini, maka Pemkot Yogya bisa langsung menghubungi pengunjung yang bersangkutan bila ada kasus. Nanti akan diarahkan untuk isolasi mandiri atau melakukan pemeriksaan di layanan kesehatan secara cepat.
Sedangkan langkah lainnya tentu saja melakukan penelusuran kontak dengan cepat terkait dengan pasien COVID-19 yang bersangkutan. Kemudian langkah berikutnya adalah blocking, yakni dengan segera menemukan mereka yang terpapar dari pasien positif untuk diisolasi dan diperiksa.
Selanjutnya adalah dengan mengendalikan dan mengorganisir pedagang di Malioboro. Biasanya dilakukan dengan mengosongkan salah satu area untuk dilakukan penyemprotan disinfektan, suatu aksi yang disebut juga sebagai shock therapy bagi para pedagang tersebut agar serius menjalani protokol kesehatan.
Pemkot Yogya juga melibatkan masyarakat secara aktif. Di Malioboro, komunitas aktif menelusuri kontak eratnya. Begitu juga dalam keluarga, lingkungan RT/RW atau ketua kampung juga aktif.
"Kami aktif menanyakan ke masyarakat dan masyarakat juga aktif memberitahukan informasi yang diterimanya," kata Heroe. "Sehingga blocking kasus bisa lebih cepat."
Gugus Tugas juga aktif bekerja sama dengan aparat dan semua pihak demi mengampanyekan protokol kesehatan. Selain itu juga dilakukan operasi yustisi demi menegakkan ketertiban penerapan protokol.
Sedangkan yang terakhir, Pemkot Yogya mengajak masyarakat untuk mengubah pola pikir, bahwa COVID-19 harus dihadapi bersama-sama tanpa saling menyalahkan. Sebab bila tak segera diatasi, maka aktivitas perekonomian akan terus terhambat.
(wk/elva)