Dirut Bio Farma, Honesti Basyir, mengklaim vaksin siap diproduksi Januari 2021 bila hasil uji klinis fase III sesuai harapan. Sedianya vaksinasi siap dilakukan pada bulan yang sama atau Februari.
- Elvariza Opita
- Senin, 05 Oktober 2020 - 14:37 WIB
WowKeren - Saat ini Indonesia sedang mengebut pengadaan vaksin COVID-19. Diketahui Indonesia bekerja sama dengan Sinovac Tiongkok yang saat ini menggelar uji klinis fase III di Kota Bandung.
Lantas kapan vaksin yang uji klinisnya melibatkan 1.620 relawan ini siap diedarkan ke masyarakat? Disampaikan oleh Direktur Utama Bio Farma, Honesti Basyir, vaksin ditarget siap diproduksi pada Januari 2021.
Hal ini terkait dengan proses uji klinisnya yang berlangsung selama 6 bulan. Dan sejauh ini, imbuh Honesti, uji klinis itu berjalan lancar.
"Uji klinis akan makan waktu 6 bulan," kata Honesti dalam rapat bersama Komisi VI DPR RI, Senin (5/10). "Setelah 6 bulan akan kami sampaikan."
"Sampai saat ini belum ada reaksi serius dari suntikan ini," imbuhnya, dilansir dari Kumparan. "Mudah-mudahan ini bisa berjalan lancar supaya Januari bisa kami sampaikan hasilnya dan disampaikan ke BPOM."
Bila Januari siap diproduksi, maka vaksinasi bisa dilakukan maksimal sebulan sesudahnya. "Sehingga Januari bisa produksi. Insya Allah akhir Januari atau awal Februari bisa vaksinasi," jelasnya.
Pada kesempatan itu, Honesti juga menjelaskan perihal metode pengembangan vaksin Sinovac. Vaksin ini, tutur Honesti, dikembangkan dengan metode inactivated virus yang diproyeksikan jauh lebih baik daripada metode pelemahan virus.
Honesti juga sempat menyinggung perihal transfer keilmuan serta teknologi, juga berkoordinasi terkait bahan baku vaksin. "Dengan Sinvac juga sudah komunikasi untuk bahan baku," kata Honesti.
Pengadaan vaksin COVID-19 memang terus menjadi pembicaraan panas di tengah masyarakat. Yang belakangan sangat disorot adalah perihal halal atau tidaknya vaksin tersebut, serta bagaimana hukum penggunaannya jika belum mendapat sertifikasi halal.
Kendati demikian, saat ini pemerintah juga akan menggandeng Majelis Ulama Indonesia (MUI) untuk memverifikasi kehalalan vaksin tersebut. Juru Bicara Wakil Presiden, Masduki Baidlowi, menegaskan verifikasi tak akan menghalangi proses produksi dan vaksinasi senyawa yang diharapkan bisa mengendalikan pandemi COVID-19 itu.
"Vaksin itu kalau halal ya bagus, enggak ada problem, tetapi kalau misalnya tidak halal tidak masalah," jelas Masduki, Jumat (2/10). "Karena itu dalam kondisi darurat sehingga kemudian tidak masalah dipakai juga."
(wk/elva)