Ahli Ungkap Jumlah Vaksin COVID-19 Yang Diperlukan RI untuk Terapkan Herd Immunity
Nasional
COVID-19 di Indonesia

Kepala Lembaga Biologi Molekuler Eijkman Amin Soebandrio mengungkap kapasitas produksi vaksin yang ada saat ini masih belum mampu untuk memenuhi kebutuhan seluruh dunia.

WowKeren - Kepala Lembaga Biologi Molekuler Eijkman Amin Soebandrio mengungkap syarat untuk menerapkan kekebalan populasi atau herd immunity. Menurutnya, vaksinasi perlu dilakukan pada sekurangnya 173 juta penduduk untuk menciptakan kekebalan populasi ini.

Terlebih lagi jika diperlukan dua kali suntikan vaksin, maka dibutuhkan sekitar 346 juta ampul vaksin untuk memenuhi syarat tersebut. Kebutuhan sebanyak ini, dikatakannya tidak bisa jika hanya mengandalkan vaksin dari luar negeri.

"346 juta ampul vaksin itu banyak," kata Amin dilansir Antara, Sabtu (17/10). "Kebutuhan vaksin tersebut tidak mungkin bisa terpenuhi dari luar sehingga perlu pengembangan vaksin secara mandiri."

Menurutnya, kapasitas produksi vaksin yang ada saat ini masih belum mampu untuk memenuhi kebutuhan seluruh dunia. Jumlah kapasitas produksi maksimal diperkirakan hanya sekitar tiga miliar dosis, yang mana jumlah ini masih jauh dibanding populasi penduduk yang harus divaksin.


"Kita melihat kapasitas produksi vaksin baik dunia maupun di Indonesia seberapa besar," kata Amin lagi. "Karena kapasitas produksi di dunia pun hanya kurang lebih separuh dari jumlah penduduk dunia hanya sekitar tiga miliar vaksin untuk tujuh miliar penduduk."

Berangkat dari proyeksi kapasitas produksi vaksin yang tidak mencukupi, maka Indonesia tidak bisa jika hanya bergantung dari luar dalam penyediaan vaksin. "Nah, tentunya melihat situasi seperti ini Indonesia tidak bisa tergantung pada luar negeri," ujarnya.

Eijkman sendiri tengah mengembangkan vaksin dengan platform sub unit protein rekombinan. Antibodi yang dihasilkan setelah proses vaksinasi akan bekerja mencegah terjadinya penempelan virus pada sel manusia, serta pelepasan materi genetik virus ke dalam sel manusia.

Sementara itu sebagai langkah strategis penyediaan vaksin jangka pendek, pemerintah telah menjalin kerja sama dengan sejumlah perusahaan luar.

"Kita punya strategi jangka pendek di mana kita melakukan transfer teknologi proses hilir," kata Neni Nurainy dari Divisi Penelitian dan Pengembangan PT Bio Farma. "Dan untuk capacity building (pembangunan kapasitas) dari calon mitra kita, kita kerjasama dengan Sinovac China, Coalition for Epidemic Preparedness Innovations (CEPI)."

(wk/zodi)

You can share this post!

Related Posts