Bukan Efektivitas, Indikator Penting Ini yang Diamati Sebelum Vaksin Corona Dapat Izin Edar
Health
Vaksin COVID-19

Pakar kesehatan membongkar indikator penting yang diamati peneliti dalam pengembangan vaksin COVID-19, termasuk yang saat ini sedang diuji klinis di Indonesia.

WowKeren - Publik rupanya masih belum sepenuhnya yakin dengan rencana vaksinasi COVID-19 yang disebut-sebut siap dimulai pada November 2020 mendatang. Banyak yang meragukan keamanan dari vaksin tersebut, lantaran hingga kini bahkan belum ada yang dinyatakan lulus uji klinis.

Perihal keamanan vaksin ini pula yang rupanya menjadi sorotan utama para peneliti. Seperti disampaikan oleh Anggota Komite Penasihat Ahli Imunisasi Nasional, Prof. Dr. dr. Soedjatmiko, Sp.A(K), vaksin harus melalui 3 tahap uji klinis dan di setiap fasenya tim peneliti akan mengevaluasi efek samping yang ditimbulkan.

Menurut Soedjatmiko, uji klinis vaksin bisa langsung dihentikan bila dalam salah satu fasenya dinyatakan menimbulkan efek samping berat. Sedangkan saat ini vaksin COVID-19 yang akan diedarkan di masyarakat Indonesia sedang menjalani uji klinis tahap ketiga yang umumnya dilakukan terhadap ribuan manusia.

"Dari uji klinis vaksin COVID-19 satu dan dua yang sudah dilakukan, tidak ada keluhan efek samping berat. Jika dari fase satu sudah ada keluhan maka tidak akan dilanjutkan ke fase dua," terang Sudjatmiko, Senin (26/10). "Demikian juga jika ada temuan keluhan atau ada hal yang membahayakan pada fase dua, maka tidak akan dilanjutkan pada uji klinis fase tiga. Dan dalam hal uji klinis ini, pemerintah terus berkoordinasi dengan berbagai pihak."


Sudjatmiko lantas mengambil contoh uji klinis fase III vaksin COVID-19 buatan Sinovac Tiongkok di Kota Bandung. Diketahui uji klinis itu diikuti oleh 1.620 relawan yang sudah melalui sejumlah seleksi ketat.

"Ada (relawan) yang baru disuntik satu kali dan ada yang sudah dua kali, dan tidak ada keluhan atau efek samping berat yang ditemukan dalam proses uji klinis tahap tiga ini," jelas Sudjatmiko. "Pemerintah juga telah mempercayakan penelitian dan pengujian kepada para peneliti dan pengawas vaksin."

Pada kesempatan tersebut, Sudjatmiko yang juga menjabat sebagai Sekretaris Satgas Imunisasi Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) ini mengingatkan bahwa vaksinasi COVID-19 bukanlah obat atau "juru selamat" wabah. Senada dengan yang disampaikan Staf Ahli Menteri Kesehatan bidang Teknologi dan Globalisasi Achmad Yurianto sebelumnya, vaksin tetap harus didampingi dengan pelaksaan protokol kesehatan.

"Vaksin hanya salah satu upaya untuk menghentikan pandemi hari ini," tegas Sudjatmiko, dikutip pada Selasa (27/10). "Vaksin tidak dapat menggantikan mencuci tangan, memakai masker, menjaga jarak dan menghindari kerumunan."

(wk/elva)

You can share this post!

Related Posts