Kepala Bidang Bina Kesehatan Masyarakat, Dinkes Kota Cimahi, Dikke Suseno, mengatakan jika angka tersebut bisa lebih tinggi. Sebab, data itu hanya diambil dari 13 Puskesmas.
- Zodiak Yanuarita
- Jumat, 06 November 2020 - 11:08 WIB
WowKeren - Kota Cimahi mencatat angka ibu melahirkan yang cukup tinggi hingga mencapai 7.669 orang. Data itu diperoleh selama kurun waktu Januari hingga September 2020.
Kepala Bidang Bina Kesehatan Masyarakat, Dinkes Kota Cimahi, Dikke Suseno, mengatakan jika angka tersebut bisa lebih tinggi. Sebab, data itu hanya diambil dari 13 Puskesmas se-Kota Cimahi.
Sedangkan data melahirkan dari klinik swasta maupun fasilitas kesehatan masih belum termasuk. "Kalau digabung dengan data ibu melahirkan di klinik swasta, dan fasilitas kesehatan lainnya, pasti lebih tinggi angkanya," kata Dikke, Kamis (5/11).
Tingginya angka ibu melahirkan tentu juga berimbas pada tingkat kepadatan penduduk di kota tersebut. Pasalnya, bayi yang baru lahir secara otomatis akan terdata sebagai warga yang memiliki identitas administrasi kependudukan Cimahi.
Hal ini pun juga terbukti dengan rilis dari Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Barat yang melaporkan jika Kota Cimahi merupakan daerah dengan kepadatan tertinggi di Indonesia. Setiap kilometer persegi kota ini dihuni oleh 15.643 jiwa.
Kepadatan penduduk yang kian tinggi membuat pemerintah harus lebih menggencarkan program Keluarga Berencana (KB), terutama pada pasangan usai subur (PUS). Untuk menekan tingginya angka kelahiran maka penggunaan KB jangka panjang harus ditekankan.
Kepadatan kota ini tak lepas dari faktor Kota Cimahi yang dianggap memiliki daya tarik untuk ditempati. Hal itu sebagaimana dikemukakan oleh Wali Kota Cimahi, Ajay Muhammad Priatna. Meski luasnya tidak seberapa besar namun kota ini disebutnya nyaman untuk ditempati.
"Ini kota kecil tapi nyaman ditinggali, jadi orang mau stay," kata dia. "Pastinya berimbas ke kepadatan penduduk, kebutuhan hunian, pangan, dan lapangan pekerjaan."
(wk/zodi)