Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) menyebut kondisi Gunung Merapi saat ini sudah melampaui situasi saat 3 hari sebelum erupsi pada 2006 silam.
- Elvariza Opita
- Kamis, 12 November 2020 - 14:57 WIB
WowKeren - Saat ini Gunung Merapi sudah berada di status siaga alias level III. Ancaman erupsi di depan mata sehingga warga-warga yang berada di sekitar bentang alam tersebut sudah mulai diungsikan ke lokasi yang lebih aman.
Salah satu yang mulai diungsikan adalah warga Desa Klakah, Kecamatan Selo, Boyolali, Jawa Tengah yang berjarak 3-4 kilometer dari Gunung Merapi. Desakan untuk dilakukan evakuasi menguat setelah warga mendengar suara gemuruh dari gunung tersebut.
"Setelah selesai sosialisasi ada (suara) gemuruh dari atas (Merapi). Warga sebetulnya mau turun. Ditambah dengan suara itu (Gunung Merapi) warga minta turun (dievakuasi)," ujar Kepala Desa Klakah, Marwoto, Kamis (12/11).
Menurut Marwoto, sejak ditetapkan berstatus siaga, warga sering mendengar suara gemuruh. Selain itu udara di sekitar Gunung Merapi juga menjadi cukup panas, memicu kewaspadaan lebih tinggi dari setiap warga.
Kewaspadaan terhadap kondisi Gunung Merapi memang harus ditingkatkan. Sebab disampaikan Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG), kondisi gunung tersebut sudah melampaui kondisi 3 hari sebelum terjadinya erupsi pada 2006 silam.
Kepala BPPTKG Hanik Humaida menyebut secara data sistemik, sampai Rabu (11/11) kemarin, Gunung Merapi sudah melampaui erupsi yang terjadi pada 2006. Namun kondisinya masih lebih rendah daripada erupsi tahun 2010.
"Sehingga, kami sampaikan kemiripannya pada 2006 namun demikian data-data sudah melampaui 2006. Berdasarkan data seismik sudah melampaui kubah lava menjelang erupsi tahun 2006," jelas Hanik, dikutip dari Harian Jogja, Kamis (12/11). "Namun masih rendah jika dibandingkan tahun 2010."
Semua pertanda ini, imbuh Hanik, memicu kemungkinan terjadinya erupsi secara eksplosif. "Di sinilah potensi bahaya yang ada adalah jarak maksimal lima kilometer dari puncak," terang Hanik.
Sementara pemerintah juga telah menyiapkan lokasi aman untuk pengungsian. Seperti misalnya di Desa Klakah, tempat pengungsian yang disiapkan dilengkapi dengan bilik-bilik berukuran 2x3 meter persegi.
Pembuatan bilik ini dalam rangka mematuhi protokol kesehatan pandemi COVID-19. "Satu bilik ini bisa menampung satu keluarga, terdiri dari empat orang," tutur Marwoto, dikutip dari Kompas.
(wk/elva)