Siswa Di Depok Diduga 'Dijegal' Jadi Ketua OSIS Karena Agama, Disdik Jabar Bilang Begini
Nasional

Pemungutan suara pemilihan Ketua OSIS di SMAN 6 Kota Depok melalui e-voting dilakukan ulang dengan alasan kesalahan sistem. Kandidat Ketua OSIS beragama non-Muslim menduga e-voting ulang hanya dalih agar dirinya tidak terpilih.

WowKeren - Seorang siswa SMAN 6 Kota Depok yang beragama non-Muslim diduga "dijegal" untuk menjadi Ketua Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS). Perolehan suara calon Ketua OSIS bernama Evan Clementine tersebut digugurkan oleh panitia dengan alasan kerusakan sistem voting elektronik (e-voting) yang mereka gunakan.

Diketahui, pemungutan suara pemilihan Ketua OSIS SMAN 6 Kota Depok berlangsung pada Selasa (10/11), dengan batas waktu hingga pukul 15.00 WIB. Perolehan suara Evan hingga akhir batas waktu pukul 15.00 WIB sendiri telah memimpin di antara keempat calon lain.

Namun panitia kemudian mengundurkan batas waktu pemilihan hingga pukul 17.00 WIB dengan alasan banyak siswa yang belum menggunakan hak pilih mereka. Hingga batas waktu akhir yang ditentukan, Evan mengaku belum mendapat informasi dari panitia soal penghentian proses pemilihan. Ia pun mencari tahu sendiri informasi tersebut dari temannya di bagian IT.

Evan mendapat informasi dari temannya bahwasanya proses pemilihan dilanjutkan hingga pukul 23.59 WIB. Menurut Evan, keputusan itu tidak diketahui oleh siswa maupun kandidat.

"Alasan dilanjutkan karena dia bilang ada yang belum voting, dia bilang ada beberapa orang yang tidak bisa voting karena user name sudah digunakan," ungkap Evan dilansir CNN Indonesia pada Jumat (13/11). "Maksudnya, setidaknya saya diberi kejelasan, untuk langkah selanjutnya apa yang sudah diputuskan panitia."

Calon Ketua OSIS tersebut tidak sepenuhnya percaya panitia mengundurkan batas waktu pemilihan hingga dua kali hanya karena banyak siswa belum menggunakan hak pilihnya. "Di situ saya mulai curiga. Ada apa nih? Kenapa tidak ada kejelasan, kenapa voting masih berlanjut sampe 23.59," tutur Evan.


Saat meminta keterangan ke pihak IT, Evan mendapati bahwa hanya ada tiga orang yang tak bisa memilih melalui e-voting. Berdasarkan informasi dari salah seorang temannya, Evan masih memimpin perolehan suara di antara empat kandidat lain. Dari foto yang diunggah ke akun Instagram-nya, tampak Evan memperoleh 449 suara, lebih banyak dibanding para kandidat lainnya.

Keesokan harinya, panitia justru memutuskan untuk melakukan pemungutan suara ulang. Kala itu, Evan menolak keputusan voting ulang dan memberikan solusi agar tiga orang yang sebelumnya melapor tidak menggunakan hak pilih diakomodasi. Evan juga bersedia apabila perolehan suaranya dikurangi. Namun panitia dan pihak sekolah tetap memutuskan untuk melakukan pemilihan ulang.

Belakangan, Evan menduga keputusan untuk melakukan e-voting ulang hanya dalih agar dirinya tidak terpilih. Dugaan itu muncul setelah ia menerima sebuah tangkapan layar percakapan sejumlah pihak yang memiliki sentimen agama karena dirinya non-Muslim.

"Dari pas yang saya dipanggil dadakan itu, akhirnya saya bilang, kenapa di-voting ulang, apa karena agama saya? Dia bilang, 'Enggak kok. Enggak mungkin. Kamu jangan berpikir seperti itu'," ujar Evan menirukan jawaban Wakil Kepala Sekolah. "Saya mau minta keadilan untuk kayak keyakinan, kayak misalnya semua orang berhak menjadi pemimpin mau agama apapun itu. Mau bagaimana pun kalau kualitasnya baik dia berhak jadi pemimpin."

Sementara itu, Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat (Disdik Jabar) mengaku akan menelusuri dugaan tersebut. Menurut Kepala Disdik Jabar Dedi Sopandi, pihaknya baru mengetahui kabar tersebut dan akan langsung melakukan penelusuran.

"Sudah dilakukan (penelusuran) oleh cabang dinas," ungkap Dedi dilansir CNN Indonesia. Namun demikian, Dedi tidak menjelaskan secara rinci soal penelusuran yang dilakukan cabang dinas tersebut dan menyarankan agar mengonfirmasi langsung ke kepala sekolah yang bersangkutan.

Adapun Kepala SMAN 6 Kota Depok, Abdul Fatah telah membantah dugaan sentimen suku, ras, agama, dan antargolongan (SARA) dalam proses pemilihan Ketua OSIS di sekolahnya. "Saya pastikan bukan itu, itu isu, biasa itu dimanfaatkan oleh orang-orang tertentu yang merasa tidak nyaman. Saya pastikan tidak ke arah sana," pungkas Abdul.

(wk/Bert)

Follow Berita WowKeren.com di Google News

You can share this post!

Berita Terkait