Ketua Satuan Tugas (Satgas) Penanganan COVID-19 Doni Monardo menekankan jika pemberian puluhan ribu masker itu bertujuan untuk memutus rantai penyebaran corona.
- Zodiak Yanuarita
- Senin, 16 November 2020 - 13:19 WIB
WowKeren - Langkah Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) untuk memberikan puluhan ribu masker saat acara peringatan Maulid Nabi dan pernikahan putri Rizieq Shihab di markas FPI Petamburan, Jakarta Pusat, pada Sabtu (14/11) menuai sorotan. Ketua Satuan Tugas (Satgas) Penanganan COVID-19 Doni Monardo pun meminta maaf terkait hal ini.
"Sekali lagi mohon maaf," kata Doni di Jakarta, minggu (15/11). "Apabila langkah-langkah yang telah dilakukan ini mungkin banyak pihak yang kurang senang."
Doni pun mengakui bahwa apa yang telah dilakukan demi menegakkan perlindungan kepada masyarakat dari penularan COVID-19 sempat menuai pro dan kontra. Namun ia menekankan jika pemberian masker itu bertujuan untuk memutus rantai penyebaran corona.
"Ini semata-mata demi memberikan perlindungan terbaik kepada bangsa kita," ungkap Doni. "Solus populi suprema lex, keselamatan rakyat adalah hukum tertinggi."
Lebih lanjut, Doni meminta agar masyarakat menghindari kerumunan massa. Begitu juga dengan acara-acara yang berpotensi memicu kerumunan massa. Sebab, kerumunan massa sangat berpotensi menjadi media penularan COVID-19.
"Sekali lagi kepada semua pihak, terutama kepada tokoh-tokoh yang masih memiliki keinginan untuk menyelenggarakan acara-acara yang menciptakan kerumunan," lanjut Doni. "Tolong ini ditunda dulu sampai kondisi pandemi ini bisa kita kendalikan."
Sementara itu, MUI juga sempat menyoroti kerumunan massa HRS. Sekjen MUI Anwar Abbas mengimbau agar siapapun yang menggelar acara di tengah pandemi seperti sekarang ini lebih bijak. Penyelenggara acara harus benar-benar penerapan protokol kesehatan dengan baik agar acara justru tidak menimbulkan kerugian di kemudian hari.
Lebih jauh, ia mengingatkan jika wajib hukumnya bagi siapa saja untuk mematuhi protokol kesehatan yang sudah ditentukan oleh para ahli. Sebab, para ahli inilah yang lebih mengetahui bagaimana cara membentengi diri dari bahaya virus. "Supaya resiko bencana dan malapetaka yang akan menimpa rakyat bisa kita minimalisir serendah-rendahnya kalau tidak bisa dihilangkan," ujarnya.
(wk/zodi)