Anggaran PEN 2021 Lebih Kecil, Begini Penjelasan Kemenkeu
Instagram/kemenkeuri
Nasional
COVID-19 di Indonesia

Staff Khusus Kementerian Keuangan, Yustinus Prastowo, mengatakan anggaran PEN lebih rendah karena berangkat dari asumsi jika tahun depan ekonomi akan mulai bangkit.

WowKeren - Pemulihan Ekonomi Nasional akan tetap dilakukan di tahun 2021 mendatang. Namun, anggaran yang digelontorkan sepertinya tidak akan sebanyak tahun ini.

Untuk tahun 2021 jumlah anggaran yang dialokasikan untuk PEN adalah sebesar Rp 372 triliun. Yang mana, jumlah ini jauh lebih rendah daripada anggaran tahun ini. Tahun ini, anggaran PEN adalah sebesar Rp 695,2 triliun.

Staff Khusus Kementerian Keuangan, Yustinus Prastowo, mengatakan ada alasan khusus mengapa anggaran PEN lebih rendah. Hal itu berangkat dari asumsi jika tahun depan ekonomi akan mulai bangkit. Sehingga tidak menutup kemungkinan lapangan kerja akan lebih banyak terbuka.

"Betul lebih rendah. Karena asumsi kita ekonomi sudah mulai bergeliat," kata dia melanjutkan. "Sehingga lapangan kerja sudah mulai dibuka dan kantor-kantor sudah mulai beraktivitas."


Kendati demikian, meski alokasi anggaran lebih rendah, pemerintah tetap berprinsip bahwa APBN bersifat dinamis. Sehingga apabila selama waktu berjalan ada kebutuhan mendesak atau membutuhkan alokasi anggaran maka pemerintah bisa segera melakukan penyesuaian. "Sehingga tetap menjamin pemenuhan kebutuhan kepada masyarakat," ungkapnya lagi.

Sementara itu beberapa waktu lalu Menteri Keuangan Sri Mulyani rupanya optimis bahwa perekonomian akan mulai pulih. Ia pun mengungkapkan tiga pertanda atau sentimen positif yang berasal dari dalam negeri maupun internasional.

"Kabar tentang vaksin Pfizer memberikan sentimen positif di seluruh dunia," ungkap Sri Mulyani dalam diskusi online pada Selasa (10/11). "Demikian juga kemenangan Joe Biden dari Partai Demokrat turut memberikan sentimen positif."

Kendati demikian, ekonom Senior Chatib Basri menilai jika krisis yang terjadi saat ini bisa berlangsung lebih lama dari perkiraan. Hal ini disebabkan karena masih banyak masyarakat yang lebih memilih untuk menabung daripada membelanjakan uangnya.

Sehingga hal ini akan menyulitkan peningkatan konsumsi. Padahal, konsumsi masyarakat dinilai menjadi salah satu sumber utama pertumbuhan ekonomi Indonesia selain investasi.

(wk/zodi)

You can share this post!

Related Posts