Lebih Dari 160 Dokter Jadi Korban Jiwa Pandemi Corona, IDI Akui Ada Kecemasan dan Ketakutan
Reuters
Nasional
COVID-19 di Indonesia

Meski demikian, Ikatan Dokter Indonesia (IDI) menyatakan bahwa kasus kematian para dokter akibat COVID-19 ini juga menjadi pelecut bagi para petugas kesehatan untuk lebih mawas diri.

WowKeren - Pandemi virus corona (COVID-19) telah menelan nyawa lebih dari 160 dokter di Indonesia. Yang terbaru, Ketua Tim Percepatan Partisipasi Masyarakat Penanggulangan COVID-19 Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI), dr. Andrianto Purnawan, dilaporkan meninggal dunia pada Rabu (18/11) usai 15 hari dirawat karena corona.

Wakil Sekretaris Jenderal PB IDI, Fery Rahman, pun mengakui adanya kecemasan dan ketakutan di antara rekan-rekan sejawatnya. Pasalnya, para dokter dan tenaga medis menyaksikan rekan sejawat mereka silih berganti tumbang di tengah tugas mengatasi pandemi.

Namun, kasus kematian para dokter akibat COVID-19 ini juga menjadi pelecut bagi para petugas kesehatan untuk lebih mawas diri. "Pasti kecemasan dan ketakutan itu ada, tapi teman-teman sejawat saat ini lebih waspada dalam penanganan COVID-19 ini," tutur Fery dilansir CNN Indonesia pada Jumat (20/11)

Fery juga sempat menyinggung soal meninggalnya dr Andrianto karena COVID-19. Menurutnya, mendiang Andrianto tercatat tidak memiliki penyakit penyerta atau komorbid.


Kala dirawat, Adrianto juga disebut berada dalam kondisi stabil, sehingga kabar kematiannya tersebut cukup mengagetkan IDI. Namun demikian, Fery menegaskan bahwa para dokter akan selalu siaga sesuai sumpahnya untuk menolong pasien.

"Merasa down sih tidak, tetapi teman-teman sejawat saat ini lebih waspada dalam penanganan COVID-19 ini," kata Fery. "Ini ibaratnya, yang tidak punya penyakit saja bisa terpapar, ini kan (dr Andrianto) COVID- 19 tunggal nih. Karena kan biasanya kematian COVID-19 disertai penyerta, dan ini berbahaya sekali."

Oleh sebab itu, Fery meminta agar pemerintah lebih serius dalam merespons kematian dokter yang terus terjadi. Di antaranya adalah dengan memikirkan jaminan penuh penyediaan dan kecukupan Alat Pelindung Diri (APD), pengurangan jam kerja, hingga pemberian insentif khusus baik untuk tenaga kesehatan yang sedang bertugas maupun keluarga tenaga kesehatan yang wafat.

Selain itu, Fery juga tak lupa mengingatkan masyarakat untuk terus mematuhi protokol kesehatan, yakni memakai masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak. Kepatuhan masyarakat dapat membantu mengurangi beban dokter dan tenaga kesehatan. "Karena kematian dokter merupakan kerugian besar bagi bangsa ini ya," pungkasnya.

(wk/Bert)

You can share this post!

Related Posts