Tol Trans Sumatera Disebut Rawan Begal, Hutama Karya Buka Suara
Nasional

Trans Sumatera disebut sepi lantaran masih belum banyak kendaraan yang melintas. Kendati demikian HK selaku pengelola akan mengutamakan aspek keselamatan dan keamanan

WowKeren - Kondisi tol Trans Sumatera yang relatif sepi berpotensi rawan aksi kejahatan dan tindak kriminal. Terkait hal ini, PT Hutama Karya buka suara.

Executive Vice President Hutama Karya Muhammad Fauzan mengatakan jika hingga saat ini pihaknya belum menerima laporan resmi mengenai aksi kejahatan selama megoperasikan jalan tol Trans Sumatera. "Hingga saat ini belum terdapat laporan secara resmi yang diterima oleh Hutama Karya terkait adanya tindak kejahatan baik berupa rampok maupun begal yang terjadi di JTTS," kata dia dilansir Detik, Sabtu (28/11).

Tol Trans Sumatera disebut sepi lantaran masih belum banyak kendaraan yang lalu lalang di ruas jalan ini. Kendati demikian Fauzan memastikan jika pihaknya selaku pengelola akan mengutamakan aspek keselamatan dan keamanan.

"Saat ini fasilitas yang tersedia di JTTS juga sudah memenuhi Standar Pelayanan Minimal (SPM)," tambahnya lagi. "Yang ditetapkan oleh Kementerian PUPR selaku regulator."


Sebelumnya, Ketua Bidang Advokasi dan Kemasyarakatan, Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Pusat, Djoko Setijowarno mengungkapkan pihaknya pernah datang langsung ke lapangan memantau kondisi tol Trans Sumatera. "Jadi itu ruas yang selatan saja, yang utara tidak. Di selatan ada dua wilayah yang rawan sekitar Mesuji dan Kayu Agung di daerah rawa-rawa, zona merah lah," kata dia dilansir CNBC Indonesia, Sabtu (28/11).

Oleh sebab itu, ia menyarankan agar dilakukan pembenahan. Salah satunya terkait penerangan jalan. "Pengalaman saya dari Terbanggi Besar-Kayu Agung sampai 87 km tanpa lampu, kalau berkendara sendiri serem juga," paparnya.

Selain sepi hingga rawan tindak kejahatan, ada sejumlah ruas tol yang sudah mengalami kerusakan. Hal ini disampaikan oleh Direktur Utama PT Hutama Karya (Persero) atau HK, Budi Harto.

"Yang pertama, adanya truk-truk yang besar, istilahnya adalah ODOL, over dimension over load. Ini merusak jalan tol dan juga mengancam keselamatan pengguna tol," kata Budi dalam sebuah webinar, Rabu (25/11). "Karena keberadaannya ini tidak standar dengan desain jalan tol ini."

(wk/zodi)

You can share this post!

Related Posts