Masih ada beberapa perbedaan pendapat antara kedua perusahaan termasuk branding apa yang akan dipakai usai merger terjadi. Begini perkembangan selengkapnya.
- Elvariza Opita
- Jumat, 04 Desember 2020 - 11:52 WIB
WowKeren - Belakangan tengah heboh isu dua raksasa start up transportasi Asia Tenggara, Gojek dan Grab, akan "kawin". Tak main-main, bila merger ini sampai terlaksana, nilai valuasi bisa mencapai USD 72 miliar atau setara Rp 1.000 triliun dengan omzet hingga USD 16,7 miliar alias Rp 242 triliun per tahunnya.
Kabar ini terus ramai digaungkan beberapa waktu belakangan, bahkan disebutkan Bloomberg perbedaan pendapat kedua perusahaan kian kecil. Dilansir dari laporan DealStreetAsia yang dikutip CNBC Indonesia, nantinya hasil penggabungan kedua perusahaan akan melahirkan sebuah entitas baru.
Di entitas baru ini, Grab menawarkan 30 persen saham kepada Gojek. Namun manajemen Gojek dan pemegang saham masih memperjuangkan hak kepemilikan yang lebih besar dengan dalih lebih "bertaring" di Indonesia sebagai pasar terbesar Asia Tenggara.
Perihal branding pun masih dibahas. Merek Grab akan digunakan di sebagian besar wilayah Asia Tenggara, sementara "perebutan tahta" tengah terjadi di Indonesia dengan Gojek memperjuangkan brand-nya yang sudah kuat di Tanah Air. Bila berhasil, maka brand Grab kemungkinan besar akan hilang dari Indonesia.
Laporan DealStreetAsia menyebut entitas baru hasil "perkawinan" akan dikendalikan oleh Grab. Dikabarkan salah satu pendiri Grab, Anthony Tan, akan menjadi CEO entitas gabungan ini. Sementara eksekutif Gojek akan menjalankan bisnis gabungan baru di Indonesia dengan brand Gojek.
Namun isu merger ini sendiri belum mendapat jawaban gamblang dari kedua pihak. Chief Corporate Affairs Gojek, Nila Marita, menolak membahas rumor yang beredar dan hanya menegaskan makin kuatnya fundamental bisnis Gojek di tengah pandemi COVID-19.
"Kami tidak dapat menanggapi rumor yang beredar di pasar," kata Nila, dilansir Detik Finance, Jumat (4/12). "Kami terus memprioritaskan pertumbuhan yang berkelanjutan untuk memberikan layanan terbaik kepada pengguna dan mitra kami diseluruh tempat kami beroperasi."
Langkah serupa juga ditempuh pihak Grab. "Terima kasih atas pertanyaannya namun kami tidak berkomentar mengenai spekulasi yang beredar di pasar," tegas Communications Senior Manager Grab Indonesia, Dewi Nuraini.
Di sisi lain, para mitra pengemudi online ternyata tidak menyambut baik rencana ini. Meski nilai valuasinya besar, penggabungan dua usaha yang begitu dominan dan kuat ini bisa memicu terjadinya monopoli serta permainan harga yang merugikan ke depannya.
(wk/elva)