Kemanjuran Vaksin Corona Sinovac Diklaim Sampai 97 Persen, Benarkah?
Nasional

Efikasi alias kemanjuran menjadi salah satu indikator untuk menentukan apakah sebuah vaksin layak mendapatkan izin edar atau tidak, termasuk vaksin Corona buatan Sinovac.

WowKeren - Kemanjuran alias efikasi menjadi salah satu indikator yang patut diperhatikan dalam pengembangan vaksin. Termasuk soal vaksin Corona buatan Sinovac Biotech asal Tiongkok yang belakangan sebanyak 1,2 juta dosisnya sudah "mendarat" di Indonesia.

PT Bio Farma sendiri sempat mengklaim bahwa efikasi dari vaksin tersebut mencapai 97 persen. Hal ini sudah melampaui standar Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang dalam masa pandemi menetapkan pakem efikasi di level 50 persen.

"Dari hasil uji klinis mengatakan sampai 97 persen efikasinya," kata Head of Corporate Communication Bio Farma, Iwan Setiawan, Rabu (9/12). Namun yang wajib diingat, angka efikasi ini didasarkan pada data sementara per Desember 2020 dan hanya mengacu pada kondisi uji klinis fase III di Indonesia.

Untuk diketahui, Indonesia turut aktif dalam uji klinis fase III vaksin COVID-19 Sinovac dengan melibatkan 1.620 relawan. Uji klinis ini berlangsung di Kota Bandung Jawa Barat, menyusul beberapa daerah lain seperti Brasil yang turut menggelar uji klinis serupa.


"Saat ini kita menyampaikan 97 persen tapi ini belum dokumen final," tegas Iwan, seperti dilansir dari MedCom. Namun belakangan Bio Farma, lewat rilis di laman resminya biofarma.co.id, mengklarifikasi perihal efikasi vaksin ini.

Serketaris Perusahaan Bio Farma, Bambang Heriyanto, menegaskan bahwa efikasi vaksin bertajuk CoronaVac itu belum dapat ditentukan. "Harus menunggu sampai datanya cukup," ujar Bambang.

Masih dikutip dari laman resminya, uji klinis fase III sampai kini masih berlangsung dan diperkirakan baru ada ad interim report-nya pada Januari 2021. Sebab seluruh relawan baru mendapatkan suntikan keduanya, menyesuaikan dengan skema vaksin yang double doses, pada 6 November 2020 silam.

"Data-data uji klinis dari tim uji klinis Fakultas Kedokteran Unpad nantinya akan diserahkan langsung ke Badan POM untuk dilakukan evaluasi untuk proses persetujuan penggunaan daruratnya," demikian isi rilis resmi Bio Farma. "Saat ini uji klinis sudah mulai memasuki tahap pemantauan efikasi dan monitoring."

"Pasca 3 bulan penyuntikan untuk melihat imunogenisitas dan efikasi, serta pengambilan darah setelah 3 bulan," imbuh Bio Farma. "Hingga saat ini tidak ada laporan KIPI serius yang diduga berhubungan dengan vaksin atau vaksinasi."

(wk/elva)

Follow Berita WowKeren.com di Google News

You can share this post!

Berita Terkait