Makassar Gelar 2 Event Olahraga Secara Bersamaan, Timbulkan Kerumunan Massa
Nasional

Kota Makassar kedapatan menggelar 2 event secara bersamaan di tengah pandemi COVID-19 pada Minggu (13/12) kemarin, hingga menciptakan kerumunan massa dan mengabaikan protokol kesehatan.

WowKeren - Kota Makassar menggelar 2 event secara bersamaan pada Minggu (13/12) kemarin. Akibatnya, terciptalah kerumunan massa yang mengabaikan protokol kesehatan di tengah pandemi COVID-19.

Event yang digelar secara bersamaan di Kota Makassar yakni lomba lari maraton yang mengambil start dan finish di Monumen Mandala serta event lomba renang di Pantai Losari. Lomba lari maraton ini dihadiri 750 peserta dengan biaya pendaftaran Rp 100.000 dengan total hadiah yang disediakan sebesar Rp 50 juta oleh panitia.

Kemudian lomba renang di Pantai Losari ini pun diikuti ratusan peserta yang start-nya di Pantai Losari hingga finish di Pulau Lae-lae. Selain menimbulkan kerumunan massa, para penonton dan peserta kedua event tersebut tampak tak menerapkan protokol kesehatan seperti jaga jarak, mengenakan masker. Kabar terkait 2 event tersebut bahkan telah beredar di media sosial Facebook.

Kasubag Humas Pemkot Makassar Hamzah Bakri Muhammad yang dikonfirmasi membantah jika event tersebut digelar oleh Pemkot. Dia pun tidak mengetahui adanya event tersebut dan belum mengetahui apakah berizin atau tidak.


“Dua event itu bukan Pemkot Makassar yang gelar, karena tidak ada dalam agenda. Kalau kegiatan-kegiatan rangkaian HUT Makassar sudah selesai dan tidak menimbulkan kerumunan massa," ujar Hamzah, dilansir Kompas, Senin (14/12). "Saya tidak tahu kalau Pemprov Sulsel yang punya kegiatan."

Sementara itu, Juru bicara Gubernur Sulsel, Veronica Moniaga yang dikonfirmasi mengatakan, pihaknya tidak mengetahui adanya beberapa event yang digelar di Makassar hingga menimbulkan kerumunan massa. “Apa saja itu?,” tanya Veronica melalui pesan WhatsApp.

Sementara itu, angka COVID-19 di Tanah Air kembali melonjak. Ikatan Dokter Indonesia (IDI) bahkan menilai kasus COVID-19 di Indonesia sudah "lampu merah" alias harus diwaspadai semua orang karena indeks positivity rate-nya yang tinggi.

Sebagai informasi, positivity rate adalah rasio tes COVID-19 dibanding kasus positif yang ditemukan. Ketua Satuan Tugas COVID-19 IDI, Zubairi Djoerban mengungkapkan positivity rate Indonesia saat ini adalah 19 persen, atau hampir 4 kali lipat dari standar Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) di level 5 persen.

"Kalau melihat kasus baru 6.189 per 24 jam terakhir, yang mengkhawatirkan adalah persentase kasus positif seminggu terakhir sampai 19 persen," jelas Zubairi dalam rapat koordinasi Satgas COVID-19, Minggu (13/12) malam. "Memang lampu merah untuk kita semua. Karena penularan lebih mudah sekarang, pun ada beberapa provinsi yang lebih rendah."

(wk/nidy)

Follow Berita WowKeren.com di Google News

You can share this post!

Berita Terkait