Kompolnas Yakin Penembakan Laskar FPI Bukan Rekayasa, Buka Fakta Soal Latihan Paramiliter Ormas
Nasional

Ketua Harian Kompolnas Benny Mamoto ikut buka suara usai menyaksikan rekonstruksi penembakan 6 laskar FPI yang digelar oleh polisi pada Senin (14/12) dini hari.

WowKeren - Polisi sudah menggelar rekonstruksi penembakan yang menewaskan 6 laskar Front Pembela Islam (FPI). Lewat rekonstruksi itu terungkap 2 laskar meninggal dalam aksi baku tembak di KM 50, sementara 4 lainnya ditembak polisi karena melawan saat hendak diamankan.

Namun hasil rekonstruksi ini menuai beragam reaksi sehingga pihak kepolisian menegaskan bahwa semuanya bukan rekayasa. Hal senada juga secara tersirat disampaikan oleh Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas), yang dalam pernyataannya turut menegaskan bahwa laskar FPI lah yang pertama kali menyerang polisi.

"Saya bisa menyaksikan sendiri bahwa memang benar terjadi penyerangan," ujar Ketua Harian Kompolnas, Benny Mamoto, di lokasi rekonstruksi pada Senin (14/12) dini hari. "Yang aktif menyerang dari kelompok itu dari awal."

Benny pun berharap agar publik bisa memahami peristiwa yang sebenarnya terjadi dari hasil rekonstruksi itu. "Ini kiranya menjadi pemahaman kita bersama (tentang) apa yang sesungguhnya terjadi," tutur Benny, dikutip dari Kompas.

Di sisi lain, hasil rekonstruksi yang menunjukkan bahwa laskar FPI fasih menggunakan senjata tajam dan senjata api jelas masih memicu kecurigaan publik. Dalam kesempatan terpisah, Benny rupanya sempat membuka fakta mengejutkan soal eks anggota ormas seperti FPI, yakni bergabung ke kelompok radikal Jamaah Ansharut Daulah (JAD) dan Mujahidin Indonesia Timur (MIT).


"Saya buka datanya, ada 37 anggota FPI, atau dulunya anggota FPI, yang bergabung dengan JAD atau MIT dan sebagainya, yang terlibat aksi teror," kata Benny dalam sebuah diskusi virtual di kanal YouTube MedCom, Minggu (13/12). Saat ini JAD dan MIT sendiri menjadi organisasi terlarang di Indonesia karena terlibat banyak aksi teror, termasuk yang terbaru MIT dalam penyerangan keji di Sigi.

Aksi kejahatan yang sudah dilakukan alumnus FPI di organisasi teror ini pun beragam. Seperti misalnya terlibat pengeboman di Polresta Cirebon, membantu menyembunyikan gembong teroris terkenal Noordin M Top, sampai merakit bom.

"Data-data ini memang belum dipublikasikan ke media massa. Ini sudah melalui proses hukum. Sudah divonis lewat pengadilan sehingga ini sahih datanya," jelas Benny.

Dari data itulah Benny menyimpulkan sebagian anggota FPI pernah menjalani pelatihan paramiliter dan memiliki senjata. "Kalau melihat data seperti ini, maka ketika menghadapi mereka harus mempertimbangkan kemampuan itu," tegas Benny.

"Bahkan ada yang masih aktif jadi anggota FPI (tetapi pernah) menyembunyikan Noordin M Top di Pekalongan dan sebagainya," imbuhnya. "Inilah fakta yang kemudian kita harus ekstra hati-hati menghadapi kelompok ini."

(wk/elva)

Follow Berita WowKeren.com di Google News

You can share this post!

Berita Terkait