Mantan Kepala BIN Nilai Keberadaan Rizieq di Tahanan Bisa Dimanfaatkan untuk Kepentingan Politik
Nasional

Mantan Kepala Badan Intelijen Negara (BIN), Hendropriyono, menilai jika keberadaan Rizieq dan Ba'asyir di dalam tahanan justru berpotensi dimanfaatkan oleh politikus tertentu

WowKeren - Mantan Kepala Badan Intelijen Negara (BIN), Hendropriyono, ikut menanggapi keberadaan Imam besar Front Pembela Islam Habib Rizieq Shihab di penjara. Mulanya ia berbicara mengenai radikalisme di Indonesia.

Menurutnya, radikalisme di Indonesia dikembangkan oleh Abu Bakar Ba'asyir dan didukung Rizieq. Ia pun mengapresiasi Densus 88 yang berhasil menangkap buron teroris Zulkarnaen alias Aris Sumarsono alias Daud alias Zaenal Arifin alias Abdulrahman di Lampung.

"Jika terorisme merupakan pohon, maka akarnya adalah radikalisme," kata dia dalam keterangan tertulis, Senin (14/12). "Radikalisme dikembangkan oleh Abu Bakar Ba'asyir (kini dalam penjara) yang ternyata didukung oleh MRS."

Sehingga ia mengingatkan jika keberadaan Rizieq dan Ba'asyir di dalam tahanan justru berpotensi dimanfaatkan oleh politikus tertentu. "Keberadaan Abu Bakar Ba'asyir (ABB) dan Muhammad Rizieq Shihab (MRS) dalam tahanan saat ini dapat dimanfaatkan para politikus tertentu untuk mengail di air keruh. Mereka akan (bahkan sudah mulai) mengambil kesempatan ini untuk kepentingan politik pribadinya," lanjutnya.


Ia tidak ingin jika manuver semacam itu bisa mempengaruhi pola berpikir generasi muda Indonesia. Sehingga ia berpesan kepada generasi muda agar tidak tersesat oleh pemikiran yang salah. "Jangan sampai manuver-manuver mereka yang menyesatkan itu, memperbudak pikiran kalian terutama dari generasi muda," imbuhnya.

Ia meminta gara generasi muda tidak terjebak dalam pemikiran yang radikal. Sebab hal ini bukan tidak mungkin akan membahayakan orang lain. "Kepada anak-anak kita kaum muda bangsa agar segera sadar dan kembali kepada dirimu sendiri. Jangan mau terus dipengaruhi untuk berbuat syirik," paparnya lagi.

Ia juga mengingatkan kepada generasi muda agar jangan sampai menganggap benar diri sendiri. Sebab jika sifat ini sudah merasuk ke dalam diri seseorang maka berpotensi memicu sikap mengadili orang lain.

"Mengutip kata KH Mustofa Bisri, berhentilah mempertuhankan dirimu sendiri, dengan mengadili orang lain sebagai berbuat ma'ruf atau munkar," kata Hendropriyono. "Berhentilah membenci, menyakiti, atau menghukum orang lain."

(wk/zodi)

Follow Berita WowKeren.com di Google News

You can share this post!

Berita Terkait