Korban Jiwa Corona RI Capai 200 Orang Per Hari, Epidemiolog Ungkap Dugaan Penyebabnya
Nasional

Indonesia mencatat ada 221 pasien virus corona (COVID-19) yang meninggal dunia pada Minggu (20/12) lalu. Setelah itu, tercatat ada 205 kasus kematian COVID-19 baru pada Senin (21/12) kemarin.

WowKeren - Indonesia mencatatkan angka kematian akibat virus corona (COVID-19) di atas 200 dalam kurun waktu 24 jam selama dua hari berturut-turut. Pada Minggu (20/12) tercatat ada 221 pasien COVID-19 yang meninggal dunia, dan pada Senin (21/12) tercatat ada 205 kasus kematian COVID-19 baru.

Ahli epidemiolog dari Universitas Indonesia (UI), Pandu Riono, lantas menduga bahwa kenaikan jumlah kasus kematian COVID-19 di Tanah Air ini terjadi karena adanya peningkatan pasien positif. Adapun peningkatan kasus positif ini disebutnya sebagai imbas libur panjang.

"Jadi kasusnya banyak sekali, peningkatan ini panen kasus akibat liburan panjang dulu itu akan meningkatkan angka yang harus dirawat di rumah sakit," jelas Pandu dilansir Kompas.com pada Selasa (22/12). Menurut Pandu, kenaikan kasus positif tersebut membuat rumah sakit kewalahan menangani pasien.

Akibatnya, pasien di rumah sakit tidak bisa mendapat penanganan maksimal dan akhirnya berujung pada kematian. Faktor usia juga dinilai Pandu berpengaruh pada hal ini.


"Kira-kira dari orang yang terinfeksi itu lima persen akan masuk rumah sakit, lima atau enam persen, nah dari mereka itu sebagian akan meninggal," tutur Pandu. "Terutama kalau usia tua, yang masuk rumah sakit ini juga lebih banyak ini juga lebih banyak yang 60 tahun ke atas juga bisa menyebabkan faktor itu."

Oleh sebab itu, Pandu menyarankan agar pemerintah berusaha untuk menekan penambahan kasus positif COVID-19. Menurutnya, jika penambahan kasus positif dapat ditekan, maka jumlah pasien meninggal juga akan berkurang.

Pandu juga menyarankan agar pemerintah menambah jumlah rumah sakit khusus pasien COVID-19. "Harus ditunjuk rumah sakit-rumah sakit rujukan yang khusus menangani COVID-19, supaya menampung dulu, jangan disebar kasusnya," terang Pandu.

Sementara itu, pakar epidemiologi Griffith University Australia, Dicky Budiman, menyebut bahwa situasi pandemi corona di Tanah Air kini makin tidak terkendali. Parameter pertama yang diamatinya adalah positivity rate Indonesia yang saat ini nyaris 4 kali lipat standar dunia.

Kemudian ada sinyal pula bahwa jumlah angka kematian akibat COVID- 19 di lapangan tiga kali lipat dari yang dilaporkan. Hal in, imbuh Dicky, adalah sinyal serius bahwa pemerintah gagal menekan kurva dan memutus transmisi COVID-19 demi mengendalikan pola penambahan eksponensialnya.

(wk/Bert)

Follow Berita WowKeren.com di Google News

You can share this post!

Berita Terkait