BMKG Nilai Gempa Bumi di Majene-Mamuju Sulbar Agak Aneh Gara-Gara Ini
Twitter/BNPB_Indonesia
Nasional
Gempa Majene Sulbar

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) pun mencatat fenomena tak biasa dari gempa di Kabupaten Majene dan Mamuju, Sulawesi Barat (Sulbar) tersebut.

WowKeren - Gempa di Sulawesi Barat (Sulbar) diketahui telah menelan setidaknya 81 korban jiwa. Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) pun mencatat fenomena tak biasa dari gempa di Kabupaten Majene dan Mamuju, Sulbar, tersebut.

Pasalnya, jumlah gempa susulan kali ini tercatat sedikit jika dibandingkan gempa sebelumnya dengan kekuatan yang hampir sama. Hal ini pun menimbulkan pertanyaa, apakah gempa sudah berakhir dan keadaan normal kembali, atau justru sebaliknya.

Menurut Koodinator Bidang Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Daryono, terdapat 33 gempa susulan di Mamuju-Majene per Sabtu (16/1). Gempa pertama tercatat terjadi pada Kamis (14/1) pukul 13.35 WIB dengan magnitudo 5,9. Namun apabila dihitung dari gempa kedua yang lebih kuat pada Jumat (15/1) dengan magnitudo 6,2, maka gempa susulannya terjadi 23 kali.

"Fenomena ini agak aneh dan kurang lazim. Gempa kuat di kerak dangkal (shallow crustal earthquake) dengan magnitudo 6,2 mestinya diikuti banyak aktivitas gempa susulan," ungkap Daryono dilansir iNews, Minggu (17/1). "Akan tetapi hasil monitoring BMKG menunjukkan hingga hari kedua pasca terjadinya Gempa Utama magnitudo 6,2 hingga saat ini baru terjadi 23 kali gempa susulan."


Menurut Daryono, rangkaian gempa susulan di Mamuju-Majene tersebut jumlahnya tergolong rendah. BMKG membandingkannya dengan gempa kuat di kerak dangkal sebelumnya di tempat lain dengan kekuatan yang sama. Pada hari kedua, jumlah gempa susulannya bisa mencapai 100 kali.

"Jika kita bandingkan dengan kejadian gempa lain sebelumnya dengan kekuatan yang hampir sama, biasanya pada hari kedua sudah terjadi gempa susulan sangat banyak, bahkan sudah dapat mencapai jumlah sekitar 100 gempa susulan," papar Daryono.

Lebih lanjut, pihak BMKG belum mengetahui secara pasti penyebab minimnya gempa susulan di Mamuju-Majene. Daryono menyebut kemungkinan minimnya gempa susulan ini terjadi karena proses disipasi atau justru akumulasi dari gempa sebelumnya.

"Apakah fenomena rendahnya produksi aftershocks di Majene ini disebabkan karena telah terjadi proses disipasi, dimana medan tegangan di zona gempa sudah habis sehingga kondisi tektonik kemudian menjadi stabil dan kembali normal?" ujar Daryono. "Atau justru malah sebaliknya, dengan minimnya aktivitas gempa susulan ini menandakan masih tersimpannya medan tegangan yang belum rilis, sehingga masih memungkinkn terjadinya gempa signifikan nanti? Fenomena ini membuat kita menaruh curiga, sehingga lebih baik kita patut waspada."

(wk/Bert)

You can share this post!

Related Posts