Menkes Budi Gunadi Blak-Blakan Bahas Kendala Vaksinasi: Saya Kapok Pakai Data Kemenkes
Nasional
Vaksin COVID-19

Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi blak-blakan mengaku kapok menggunakan data Kemenkes untuk penerima vaksin virus corona. Ia juga bicara kendala vaksinasi di RI.

WowKeren - Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin blak-blakan menyatakan kapok mengandalkan data dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes). Pernyataannya ini terkait dengan data penerima vaksin virus corona yang dimiliki Kemenkes.

Menurutnya, data Kemenkes tidak tepat digunakan sebagai acuan penerima vaksin COVID-19. Budi menjelaskan kedepannya ia akan menggunakan data milik Komisi Pemilihan Umum (KPU) untuk penerima vaksinasi.

”Datanya juga biar enggak salah gimana, saya udah kapok,” kata Budi dalam sebuah diskusi virtual yang ditayangkan kanal PRMN SuCi di Youtube, Rabu (20/1). “Saya enggak mau lagi pakai datanya Kemenkes, di crossing-crossing data dukcapil.”

”Aku pakai datanya KPU,” sambungnya. “Kita ambil KPU manual, kemarin baru pemilihan itu Jabar, kayaknya itu yang paling current, based-nya untuk rakyat di atas 17 tahun.”

Sebelumnya, pemerintah memang telah menargetkan 181,5 juta penduduk Indonesia mendapatkan vaksinasi COVID-19. Proses vaksinasi ini akan dilakukan secara bertahap dalam periode 15 bulan kedepan yang dimulai pada Januari 2021 hingga Maret 2022.


Mengenai proses vaksinasi itu, Budi menjelaskan pihaknya sini mengalami sejumlah kendala. Salah satunya adalah mengenai tempat penyimpanan vaksin virus corona yang tidak mencukupi.

Sebagai informasi, vaksin COVID-19 selalu disimpai di cold chain dimana suhu dingin menjaga vaksin dari kerusakan. Namun, lemari cold chain di Indonesia masih sangat terbatas.

Padahal, saat ini pengiriman vaksin virus corona ke Tanah Air sendiri baru tahap pertama dengan jumlah 1,2 juta dosis saja. Budi menjelaskan penyebab terbatasnya kapasitas ruang itu karena vaksin untuk penyakit lainnya menumpuk di tempat penyimpanan. Hal itu yang tak diperhitungkan dengan matang sejak awal.

”Kenapa bisa penuh? Salah hitung. Ini masih di provinsi lho,” beber Budi. “Setelah dilihat, saya baru tahu, setiap tahun kita vaksinasi reguler setiap tahunnya antara 130-200 juta. Vaksin TBC, polio, difteri dan sebagainya.”

”Rupanya karena tahun kemarin Covid, jadi vaksinasi kurang tuh posyandu-posyandu,” sambunhnya. “Akibatnya vaksin enggak kepake, ditaruh di lemari es di sana, begitu kita kirim penuh, sudah ada barangnya disimpan. Jadi chaotic.”

(wk/lian)

You can share this post!

Related Posts